Usaha mencari kerja adalah tidak sulit bagiku, bukan karena aku seorang pekerja yang terampil, tetapi karena aku harus mencari nafkah sebagai buruh biasa. Aku meniru sikap orang-orang yang menepuk debu dari baju mereka dengan niat kuat untuk mendirikan eksistensi baru di dunia baru dan menaklukan rumah baru. Setelah dilepaskan dari gagasan-gagasan kuno dan dilumpuhkan dari pekerjaan, jabatan, lingkungan, tradisi mereka memperlihatkan semua mata pencaharian yang menawarkan –pada setiap jenis pekerjaan– langkah maju bertahap untuk perwujudan bahwa usaha paling jujur –tak penting jenis apapun itu– pasti tidak mengecewakan siapa pun. Aku juga bertekad melompat ke dalam dunia baru itu –dua kali– dan berjuang dengan caraku sendiri.

Aku segera mempelajari bahwa selalu ada jenis pekerjaan yang bisa didapat, tetapi segera pula aku menemukan betapa mudah untuk melepaskannya. Ketidakpastian dalam mencari nafkah ini segera tampak bagiku sebagai salah satu sisi paling gelap dalam kehidupanku.

“Pekerja terampil” ini tidak saja menemukan dirinya sendiri di jalanan sama banyaknya dengan yang tidak terampil, tetapi dia sangat kebal dengan nasib ini. Dan dalam kasusnya kehilangan penghidupan karena kurangnya pekerjaan diganti dengan larangan bekerja, atau dengan mogok sendiri. Dalam hal ini seluruh ekonomi menanggung beban perasaan tidak aman setiap orang dalam mendapatkan mata pencaharian.

Seorang anak petani –yang pergi ke kota besar– tertarik oleh pekerjaan yang lebih mudah –nyata ataupun khayalan– dan oleh jam-jam kerja yang lebih pendek, tetapi semuanya dengan cahaya memusingkan yang muncul dari sebuah kota besar, menjadi terbiasa dengan keamanan dalam hal mata pencaharian. Dia meninggalkan pekerjaan lamanya hanya ketika sedikitnya ada prospek pada pekerjaan baru. Karena kekurangan tenaga kerja pertanian, karena kemungkinan periode panjang pengangguran itu sendiri adalah kecil. Adalah kesalahan untuk percaya bahwa anak muda yang pergi ke kota besar lebih miskin daripada saudaranya yang terus mencari nafkah di bidang pertanian. Tidak, malah sebaliknya, pengalaman menunjukkan bahwa elemen yang bermigrasi terdiri atas orang-orang yang paling sehat dan enerjik, daripada sebaliknya. Tetapi di kalangan para imigran yang kita pertimbangkan, bukan hanya mereka yang pergi ke overseas saja, tetapi sama derajatnya dengan anak petani yang nekat meninggalkan desa kelahirannya untuk ke kota asing. Dia juga siap menghadapi nasib yang tidak pasti. Biasanya dia datang ke kota besar dengan sejumlah uang, dia tak perlu kehilangan hati terlampau dini jika ia diterjang nasib buruk karena tidak menemukan pekerjaan untuk suatu jangka waktu tertentu. Tetapi lebih buruk jika setelah menemukan pekerjaan, dia segera kehilangan lagi. Untuk menemukan yang baru seringkali sulit bahkan tidak mungkin. Meskipun demikian, minggu-minggu pertama dapat dia hadapi. Tetapi ketika lembar uang terakhir habis dan karena durasi panjang penganggurannya, kesulitan-kesulitan besar mulai terjadi. Sekarang dia berjalan dalam keadaan lapar, sering dia menggadaikan dan menjual barang-barang kepunyaannya, pakaiannya makin compang-camping, sehingga dia tenggelam dalam lingkungan luar yang pada puncak kemalangan fisiknya, juga meracuni jiwanya. Jika dia diusir –yang seringkali terjadi– kesengsaraannya bertambah besar. Selang beberapa saat kemudian, dia menemukan pekerjaan lagi. Tetapi kisah lama terulang. Hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya, ketiga kalinya mungkin bahkan lebih buruk, dan sedikit demi sedikit dia belajar untuk menghadapi rasa tidak amannya dengan ketidakacuhan yang lebih besar. Akhirnya pengulangan itu menjadi kebiasaan.

Dia yang sebelumnya bekerja keras, semakin lelah dalam seluruh pandangan hidupnya dan secara bertahap menjadi alat bagi mereka yang memanfaatkannya hanya untuk keuntungan mereka sendiri. Seringkali dia kehilangan pekerjaan meski seringkali bukan karena kesalahannya, bahkan ketika tujuannya tidak lagi memperjuangkan hak-hak ekonomi, melainkan untuk menghancurkan nilai-nilai politik, sosial, atau budaya secara umum. Dia mungkin tidak begitu bersemangat untuk mogok kerja, tetapi seringkali dia menjadi tidak peduli.

Proses tersebut bisa diikuti dalam ribuan contoh. Semakin disaksikan, semakin besar perubahan-perubahan mendadak untuk sebuah kota besar yang terlebih dahulu menyedot para manusia ke dalam dan kemudian dengan jahat menghancurkannya. Ketika orang-orang itu datang, mereka menjadi milik orang-orang lain, dan setelah berdiam diri selama beberapa tahun, orang-orang itu kehilangan ini semua.

::::::::::