Ketika aku sedang berkeliling di tempat beberapa rekan se-blogosphere … aku membaca beberapa artikel yg membuatku teringat akan halaman di salah satu buku favoritku … isi dari halaman tersebut kurang lebih begini :

::::::::::::::::::::

Jangan mudah mengenakan dan meniru-niru ciri kepribadian bangsa lain. Karena, itu akan menjadi petaka yg tak mudah reda bagimu. Orang-orang yg lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa lain. Dan disitulah yg disebut dengan latah, mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.

Sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang, tak pernah ada dua orang yg sama persis rupanya, maka, mengapa masih ada orang-orang yg memaksa diri untuk menyamakan perilaku dan kepribadiannya dengan banhsa lain ?

Anda merupakan sesuatu yg lain daripada yg lain. Tak ada seorang pun yg menyerupai anda dalam catatan sejarah kehidupan ini. Belum pernah ada seorang pun yg diciptakan sama dengan anda, dan tidak akan pernah ada orang yg akan serupa dengan anda dikemudian hari.

Anda sama sekali berbeda, karenanya, jangan memaksakan diri untuk berbuat latah dan meniru-niru kepribadian dan budaya bangsa lain. Tetaplah berpijak dan berjalan pada kondisi dan karakter anda sendiri.

Hiduplah sebagaimana anda diciptakan, jangan merubah suara, mengganti intonasinya, dan jangan pula merubah cara berjalan anda. Tuntunlah diri anda dengan wahyu Ilahi, tetapi jangan melupakan kondisi anda dan membunuh kemerdekaan anda sendiri.

Anda memiliki corak dan warna sendiri. Dan dunia menginginkan agar anda tetap seperti itu, dengan corak dan warna anda sendiri. Sebab anda memang diciptakan demikian adanya. Anda dikenal seperti itu, maka jangan latah dengan meniru-niru.

Umat manusia –dengan berbagai macam tabiat dan wataknya– seperti alam tumbuhan, ada yg manis dan asam, ada yg panjang dan pendek. Dan seperti itulah seharusnya umat manusia. Jika anda pisang, anda tak perlu mengubah diri anda menjadi jambu, sebab harga dan keindahan anda akan tampak jika anda menjadi pisang.

Begitulah sesungguhnya perbedaan warna kulit, bahasa, dan kemampuan kita masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Karena itu, jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda kebesarannya.

 

 

 

:::::::::::::::::::: sumber : La Tahzan hal 15