Ideologi disini adalah ideologi dalam arti seluas-luasnya. Berbagai macam ideologi kontemporer yg mengaku berdasarkan pada ilmu kontemporer semuanya meniadakan konsep manusia sebagai suatu makhluk utama. Mereka yg berteriak ttg humanisme juga melakukan hal yg sama.

historisisme menggambarkan sejarah sebagai satu-satunya arus material determinatif yg dalam perjalanannya, membangun sesuatu yg disebut manusia dari elemen material, sesuai dengan hukum proses sejarah yg tak dapat diubah. Jadi, pada akhirnya historisisme mengarah pada detrminisme materialistis, yg di dalamnya manusia menjadi elemen yg pasif.

Biologisme, yg mengutamakan hukum alam, menganggap manusia persis seperti binatang, hanya saja ia melihatnya sebagai mata rantai terkemudian dari rantai evolusi. Ia menganggap semua manifestasi spiritual kemanusiaan dan kualitas khasnya sebagai ditimbulkan oleh keadaan fisik manusia, sebagai insting alami.

Sosiologisme memandang manusia sebagai sayuran yg tumbuh dalam taman lingkungan sosialnya, jadi memerlukan iklim dan tanah yg layak. Sosiologisme menganggap bahwa panen manusia akan berubah hanya apabila taman tersebut diubah. Dan sebagaimana kasus di muka, proses ini berlangsung menurut hukum ilmiah di luar kemungkinan campur tangan manusia termasuk hukum-hukum yg mengatur tindakan-tindakan manusia dan bahkan kepribadiannya.

Apabila kita tambahkan materialisme dan naturalisme –yg memandang manusia masing-masing sebagai benda material dan binatang– pada aliran-aliran ini, maka zaman ini akan muncul sebuah fenomena yg bernama malapetakan ideologi.

Dalam konteks ini, ideologi kontemporer membuat keadaan semakin membingungkan. Ideologi kontemporer dalam salah satu fasenya adalah materialisme, jadi menganggap manusia hanya sebagai suatu elemen dalam batas-batas dunia material. Dalam fase lain, ia adalah pendukung ekstrim sosialogisme. Jadi ia memberikan kebebasan pada masyarakat dalam menghadapi kecenderungan naturalistis dan humanistis, dan kemudian dengan sewenang-wenang menggolong-golongkan unsur-unsurnya ke dalam infra-striktur atau supra-struktur. Yg pertama menunjukkan produksi material, dan yg kedua menunjukkan kebudayaan, moral, filsafat, kesusteraan, seni, ideologi dan seterusnya. Akibatnya ia menggambarkan manusia sebagai sama dengan supra-struktur ini. Dalam hal ini manusia tak lebih daripada jumlah bagian-bagian ini. Ringkasnya, kemanusian ternyata hanyalah produk dari cara produksi dan terdiri dari alat-alat produksi, maka pada akhirnya keunggulan manusia dalam ideologi kontemporer berasal dari keunggulan alat-alat. Jadi disini orang berbicara mengenai utensilisme, bukan humanisme. Atau dengan kata lain, umat manusia tidak dianggap sebagai anak-cucu adam, tetapi anak-cucu peralatan.

Dengan menggabungkan dialektika dengan materialisme, ideologi kontemporer bukan saja menyembunyikan mahkota kemuliaan kemanusiaan, tetapi juga membangun suatu determinasi materialistis di atas kekuatan determinasi historis dalam manusia, yg pada penerapan praktisnya berarti tambahan mata rantai yg lain. Karena hal ini benar-benar mengakibatkan pembelengguan keinginan manusiawi sebagai sumber keunggulan manusia di dunia, dan akhirnya menceburkan kemanusian ke dalam lubang yg sama dari fatalisme yg digali oleh filosof-filosof dan teolog-teolog yg bekerjasama dengan kekuatan politis.

Mata rantai tersebut tidak melekat pada surga melainkan pada bumi. jadi, bukanlah sekedar ejekan jika materialisme disebut sebagai FANATIK

:::::::::: Seri ketiga dari trilogi malapetaka ::::::::::

  1. Episode 1 : Malapetaka Kemanusian — Premiere tgl 17 Juli 2007
  2. Episode 2 : Malapetaka Sosial — Premiere tgl 18 Juli 2007
  3. Episode 3 : Malapetaka Ideologi — Premiere tgl 19 Juli 2007