Ada dua sistem sosial yg berlaku saat ini, yg merangkul manusia baru atau mengundang manusia ke dalam rangkulannya, sangat terasa sekali adanya kenyataan bahwa manusia sebagai suatu esensi utama dan supra-material secara tragis telah dilupakan.

Kedua sistem sosial ini walaupun berbeda dalam bentuk lahirnya, menganggap manusia sebagai binatang ekonomis. Penampilan mereka yg berbeda mencerminkan persoalan siapa diantara mereka yg lebih sukses dalam memenuhi kebutuhan binatang ini.

Kedua sistem sosial itu adalah inti dari sekian banyaknya nama sistem sosial yg berkeliaran di muka bumi ini, kedua sistem itu adalah kapitalisme dan komunisme.

Ekonomisme adalah prinsip dasar filsafat kehidupan dalam masyarakat kapitalis industri, tepat seperti yg dikatakan Francis Bacon :

“Ilmu meninggalkan pencarian kebenaran, dan beralih untuk mencari kekuatan”.

Kebutuhan-kebutuhan material yg ditimbulkan setiap hari, dan yg secara berangsur-angsur semakin besar –sehingga lingkup konsumsi dapat diperbesar dalam kuantitas, kualitas dan juga variasi, agar mesin-mesin produksi raksasa dapat diberi makan selagi mereka berpacu dalam kesintingan–, mengubah orang-orang menjadi penyembah konsumsi. Setiap hari beban yg semakin berat ditimpakan pada khalayak ramai, sehingga keajaiban teknologi modern, yg seharusnya telah membebaskan umat manusia dari perbudakan kerja jasmani dan menambah waktu santai, ternyata tak dapat berbuat demikian. Begitu cepat kebutuhan material artifisial melampui kecepatan teknologi produksi yg sudah sedemikian hebat itu. Tiap hari kemanusian semakin terseret ke arah pengasingan, lebih tenggelam dalam pusaran gila kecepatan yg memaksa. Bukan saja tidak ada waktu untuk menumbuhkan nilai-nilai manusia, keluhuran moral dan kepekaan rohani, makhluk ini malahan tenggelam dalam bekerja. Penyelaman ke dalam persaingan edan mengejar kemewahan dan penyimpangan ini telah menyebabkan nilai moral tradisional merosot dan juga menghilang.

Dalam masyarakat komunis kita dapatkan hal serupa, nilai moral kemanusiaan terus menurun. Banyak kaum intelektual merenungkan kontras ekonomi dan politis antara masyarakat komunis dan kapitalis. Mereka menganggap komunis berbeda dari kapitalis dalam hal antropologi, filsafat kehidupan dan humanisme. Tetapi kita lihat jelas bahwa masyarakat komunis, walaupun telah mencapai tahap pertumbuhan ekonomi yg relatif maju, amat menyerupai borjuisme dalam hal perilaku sosial, psikologi sosial, pandangan individual, filsafat hidup dan tabiat kemanusiaan. Yg sedang diperselisihkan dalam masyarakat komunis sekarang dengan nama Fourierisme, embourgoisement, dan bahkan liberalisme, yg tidak lain daripada suatu orientasi kepada manusia kontemporer. Perhatian yg kuat terhadap mode dan kemewahan yg sekarang merata, baik dalam kehidupan individu maupun dalam sistem produksi negara, muncul dari kenyataan bahwa pada akhirnya masyarakat komunisme dan kapitalisme mempersembahkan satu jenis manusia yg sama bagi pasaran sejarah kemanusian.

Demokrasi dan liberalisme –sesuci apapun keduanya yg disebu-sebut dalam teori– pada prakteknya tak lebih daripada kesempatan gratis untuk makin memamerkan semangat ini, dan untuk menciptakan secara makin cepat dan kasar suatu arena bagi kekuatan-kekuatan yang haus keuntungan, yg ditugaskan untuk mengubah manusia menjadi binatang ekonomis yg konsumtif.

Jadi, sekarang kita lihat adanya kapitalisme negara dengan berbagai nama sosialisme, yaitu : diktator pemerintahan dengan nama kediktatoran proletar tunggal, fanatisme kepercayaan dengan nama dialectical materialism dan kepercayaan pada prinsip mekanisme dan ekonomisme demi pencapaian kekayaan ekonomi secepatnya, agar segera melewati sosialisme menuju komunisme. Semuanya ini adalah beban yg menimpa kemanusian atas nama kemauan suci, bebas dan kreatif, serta mencampakkan kemanusian ke dalam organisasi yg kasar tetapi saling melingkupi, yaitu ke dalam suasana yg paling nyata dari pengasingan politis dan intelektual.

:::::::::: Seri kedua dari trilogi malapetaka ::::::::::

  1. Episode 1 : Malapetaka Kemanusian — Premiere tgl 17 Juli 2007
  2. Episode 2 : Malapetaka Sosial — Premiere tgl 18 Juli 2007
  3. Episode 3 : Malapetaka IdeologiPremiere tgl 19 Juli 2007