Manusia adalah spesies yg sedang runtuh. Ia sedang mengalami metamorfosis, dan seperti kupu-kupu yg lepas dari kepompong, ia berada dalam bahaya akibat kecerdasan dan keberhasilan usahanya.

Yg lebih mengherankan lagi, sepanjang sejarah, kemanusiaan biasa dikorbankan untuk cita-cita pembebasannya sendiri. Dalam sejenis pusaran sejarah, rindu akan pembebasan telah menempa rantai belenggu manusia, dan dengan menawarkan harapan untuk bebas malah mengantarkan manusia ke dalam jebakan.

Agama, cinta yg perkasa serta panggilan ke arah kesempurnaan dan keselamatan, setelah memancar dari sumber utamanya yg jernih lalu mengalir sepanjang sejarah, mengalami perubahan dalam aroma dan kualitasnya. jalannya berada di bawah kendali kekuatan-kekuatan yg memegang mahkota sejarah, dan yg telah melahirkan era sosial.

Di Cina, ajaran Lao Tzu mula-mula merupakan panggilan pembebasan dari kurungan kehidupan palsu, intelek yg terpecah dan peradaban kasar yg menyeret manusia sejati ke dalam perbudakan — yg menyelewengkan dan mencemarkan sifat primordial manusia yg sebenarnya sesuai dengan tabiat prinsipal, yakni Tao. Ajaran Lao Tzu ini terjebak dalam pemujaan terhadap dewa-dewa yg tak terhitung banyaknya, dewa-dewa yg secara finansial memeras umat manusia, melemahkan kekuatan intelektualnya dan menimpakan hukuman ketakutan dan penguburan tiada akhir.

Kemudian lahir Confucius, bertempur melawan ketahyulan dengan maksud membebaskan rakyat dari perbudakan kekuatan-kekuatan imajiner itu. Ia menuntun orang-orang keluar dari cengkraman khayalan yg tak masuk akal, pengorbanan tanpa akhir, sumpah-sumpah, doa-doa dan pembunuhan diri yg melumpuhkan, menuju sejarah, masyarakat, kehidupan dan akal budi. Ia mengajukan prinsip yg disebut moralitas sebagai dasarintelektual untuk organisasi kehidupan sosial. Meskipun demikian, di kemudain hari, prinsip fundamental ini berubah menjadi kebiasaan yg harus tunduk pada kompromi membuta yg membunuh segala macam perubahan sosial. Orang-orang tumbuh seperti binatang beku yg diselimuti salju kutub. Mereka terjerumus ke dalam kepasifan dan konservatisme fanatik.

Agama orang India yg mengandung pengetahuan yg jelas mengenai manusia, dilengkapi dengan pengertian mendalam ttg keesaan Tuhan, alam dan manusia –suatu pengertian yg memasukkan ruh ke dalam tubuh dunia dan bertindak sebagai kekuatan yg memuliakan ruh manusia– telah dijelmakan menjadi sejumlah besar ketahyulan yg mengerikan di mana manusia dikerumuni oleh dewa-dewa. Dewa-dewa ini menculik sisa remah terakhir milik penyembah yg tak berdaya ini, kemudian menjadikan eksponen pembebasan dan mistis timur yg tinggi sebagai keprihatinan penuh, ketahyulan yg mematikan dan mengakibatkan adanya perbudakan oleh kekuasaan resmi keagamaan.

Budha datang untuk menyelamatkan orang-orang. Ia mengundang mereka ke arah kebebasan dari perbudakan dalam bentuk penyembahan dewa-dewa dari langit. Tetapi pengikutnya menjadi penyembah budha.

kemudian juru selamat yg dijanjikan datang untuk menyelamatkan kemanusiaan dari ikatan materialisme dan ritualisme ajaran Musa, untuk membebaskan agama dari perbudakan oleh pedagang dan orang-orang yg rasialis, untuk menciptakan kedamaian, cinta dan keselamatan jiwa. Ia ingin membebaskan orang-orang yg berada di bawah pesona ketahyulan para pemuka agama serta mengutuk perbudakan di bawah imperialisme. Tetapi kita melihat bagaimana aliran itu sendiri mewarisi tahta kekaisaran Roma, terus-menerus menghidupkan tatanan kekaisaran, bagaimana skolastisisme memberikan pembenaran intelektual kepada feodalisme zaman pertengahan, dan bagaimana ia membunuh pemikiran bebas. Kita telah tahu bagaimana “aliran kedamaian” ini lebih bebas menumpahkan darah dibanding kelompok mana pun yg pernah dikenal dalam sejarah, dan bagaimana Tuhan menjadi seperti manusia padahal seharusnya manusia menjadi seperti Tuhan secara spiritual dan moralitas.

Akhirnya sampailah kita pada mata rantai terakhir dalam perkembangan aliran-aliran menurut sejarah, yg datang dari kerendahan bumi ke ketinggian langit, dari pembudakan satu sama lain ke arah pengabdian kepada Tuhannya, dan dari penindasan ke arah keadilan. Aliran itu bernama ISLAM.

Kita tahu bagaimana Islam dibentuk menjadi kekuatan kebudayaan yg perkasa, yg dengan nama ilmu hukum, pengajaran teologi dan sufisme, memberikan warna keagamaan pada tatanan feodal, dan mengikat umat Islam dalam mata rantai takdir. Jalan ke arah keselamatan tidak lagi ditempuh melalui tauhid, amal saleh dan pengetahuan. Sebaliknya, jalan keselamatan ini ditempuh melalui suatu tradisi warisan berupa kompromi buta, permohonan, sumpah dan doa, atau pelarian dari realita, masyarakat, dan kehidupan menuju dunia langit. Jalan yg ditandai dengan pesimisme sehubungan dengan sejarah manusia, kemajuan dan keselamatan manusia di dunia ini dan ditandai pula dengan penindasan semua keinginan alami dan kehendak hati manusia.

:::::::::: Seri pertama dari trilogi malapetaka ::::::::::

  1. Episode 1 : Malapetaka Kemanusian — Premiere tgl 17 Juli 2007
  2. Episode 2 : Malapetaka Sosial — Premiere tgl 18 Juli 2007
  3. Episode 3 : Malapetaka Ideologi Premiere tgl 19 Juli 2007