Pilem Harry Potter selalu fenomenal, dengan tolak ukur minimal dari panjangnya antrian di bioskop-bioskop. Pilem yg paling baru, Harry Potter and The Order Of The Phoenix, pun bukan pengecualian. Sebagai gambaran, dalam hari-hari pertama penayangannya, saya terpaksa mengurungkan niat menontonnya saat melihat antrian yang ingin menonton pilem ini. “Gila, udah dibela-belain ke s******** ga ada hasilnya” kata saya dalam hati.

Awalnya saya berpikir, dengan label PG-13 yang menyertai pilem ini, akan membuat jumlah penonton –sedikit– berkurang, tetapi ternyata banyak juga orangtua yang membawa anak-anak mereka yang masih dibawah umur yang ditentukan. Tapi mari lupakan saja masalah pembatasan umur itu. Yang paling membuat saya heran adalagh komentar dari penggemar Harry Potter yang menonton, yang sempet saya dengar saat penonton berbondong-bondong keluar bioskop –ketika kesempatan saya menontonnya datang juga di kota s*******– kebanyakan komentar yang keluar adalah, “kok beda sama bukunya ya!”, “pilemnya mengecewakan!”, “Harry dan Cho tambah cakep”, dan beragam komentar negatif lainnya yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap berbagai unsur pilem ini, mulai dari cerita yang terpaksa loncat-loncat, dan potang sana-sini karena durasi pilem yang tidak memungkinkan, perbedaan detail cerita, dan gambaran karakter. Itu pun terjadi di pilem-pilem sebelumnya.

Menurut saya sendiri, pilem ini bagus. Bahkan saya berani bilang bahwa sejauh ini, pilem inilah yg terbaik dari rangkaian pilem Harry Potter, menang tipis dari Goblet Of Fire. Saya acungkan jempol untuk director-nya yang mampu mengangkat pilem ini menjadi lebih dark dan keluar dari genre anak-anak, suatu hal yang sesuai dengan bukunya. Mengenai perbedaan dari buku, ya memang cukup banyak berbeda dari buku. beberapa perbedaan bahkan cukup signifikan, tapi tidak mengganggu jalannya cerita –dikit sih, tapi aku bisa memaafkannya karena tidak merubah inti cerita–. Dari segi akting dan special effect pun, saya merasa puas.

Overall, pilem ini sangat layak ditonton, tentunya jika anda menyukai pilem fantasy. terlepas dari apakah anda membaca bukunya atau tidak, pilem ini tetap menghibur. Salah satu indikasinya adalah antrian yang sangat panjang itu. Sebagian besar pengantri itu memang adalah penonton pertama yang belum sempet nonton –atau terus tidak kebagian tiket–, namun penonton yang kesekian kalinya juga banyak, karena saya mendengar mereka begitu larut mendiskusikan pilem ini –dengan keluh kesah, tapi tetep aja nonton ulang–.

Satu yang saya tahu dengan pasti … ketika Harry Potter mencium Cho, kamu-tahu-siapa pasti merasa marah dan dipenuhi rasa iri yang teramat sangat ….πŸ˜†

:::::::::: sumber : cinemags & wikiΒ