Pertama, saya dibuat menunggu lama untuk mendapatkan boarding pass. Berikutnya, petugas imigrasi sedikit banyak lagak. Dan , hal paling bikin geli adalah banyaknya petugas yang memeriksa saat hendak naik ke pesawat. Mulai dari seseorang mirip agen rahasia menanyakan paspor, sampai pada polisi meminta sobekan boarding pass. Padahal biasanya cukup seorang staff airliner untuk melakukan semua hal itu. Sudah begitu, semua dilakukan dalam slow motion, alias lambatnya minta ampun!… Bayangkan, saya harus menunggu setengah jam lebih hanya untuk mendapatkan boarding pass. Padahal, antrean di hadapan saya hanya 4-5 orang saja. Kelakuan petugas kasir duty free shops juga kurang lebih sama. Saya melihat beberapa turis bolak-balik meja imigrasi dan pos pemeriksaan tanpa alasan jelas. Benar-benar konyol. Yeah … negara ini seperti dihadapkan pada isu bom saja …

Terus terang saja, semua kejadian mengesalkan itu nyaris membuyarkan semua pengalaman menyenangkan yang aku alami selama di sini … yaitu mengunjungi kota tua Medina of Tunis. Ya, mengunjungi ibukota tunisia ini tidaklah lengkap tanpa melihat Medina. Di sinilah kita bisa melihat identitas sesungguhnya negara terletak paling utara di Afrika itu. Yah, hitung-hitung ngabuburit sembari menunggu event utama nanti malam.

“Oke, mau kemana kita?” Tanya Ridha, pria asli Tunis yang menjadi tour guide kami. “Suuq di Medina” sahut kami mantap. Medina adalah bagian kota tua dari Tunis, sementara Suuq merupakan sebutan untuk pasar tradisional.

Sepanjang perjalanan, terdapat satu hal yg menggelitik perhatian saya. Nyaris tak ada mobil jepang di sini. Oke, ada beberapa Toyota dan Mitsubishi, tapi tak satupun Honda terlihat. Mayoritas kendaraan yg berlalu-lalang berdarah eropa. Yang bikin geli adalah rata-rata mobil tersebut berpenampilan dekil, seperti sudah setahun tidak dicuci. Yeah, dengan debu pasar beterbangan ke sana-sini, siapapun dijamin malas mencuci. Apalagi Tunis sempet diguyur hujan sehari sebelumnya. Hehehehehe … kapan lagi bisa menikmati mobil milyaran rupiah tampil sedekil itu … hehehehehehe

Mendekati Medina, kami pun mulai dihadang tumpukan kendaraan. Kata Ridha, penduduk Tunis lebih memilih mobil pribadi, ketimbang transportasi umum, mirip ama Indonesia. “Lalu lintas di sini semrawut dan hectic” katanya seraya membandingkan pengalamannya berkendara di Eropa.

Semrawut ???? … Ups, I don’t think so, Mr. Ridha. Oke, pengemudi Tunis cenderung tidak mempedulikan rambu lalu lintas, tapi dibandingkan Indonesia ? … ah, sangat ngga sebanding. Di Tunis anda ngga akan bertemu dengan angkot ngetem ataupun sepeda motor yg berlawanan arah.

Pelanggaran yg saya rasa agak serius di sini paling-paling hanya parkir sembarangan. Tapi bukankah semua orang melakukannya dan rasanya deretan mobil parkir belum sampai mengganggu lalu lintas.

Sulitnya lahan parkir membuat kami harus berhenti beberapa blok dari Suuq, dan kami pun harus berjalan ke sana. Bukan masalah, cuaca cerah dengan suhu sekitar 12 – 20 derajat Celcius membuat perjalanan dengan kaki terasa nyaman.

Memasuki Suuq ibarat memasuki dimensi lain. Suasanan begitu kontras dengan aroma modern lingkungan sekitar. Seperti memasuki zona waktu berbeda dan berada di abad pertengahan, “Dulu, pedagang di sini dibagi dalam beberapa zona. Jalan ini misalnya berisi penjual perhiasan,” terang Ridha “sayang, aturan main ini mulai tidak ditaati dan kini banyak area yg berisi pedagang campur aduk”.

Salah satu cinderamata khas adalah karpet, semuanya hand-made dan dibuat tanpa berpatokan pola tertentu, hanya berdasarkan ingatan pengrajinnya. Waktu pembuatan pun beragam, butuh waktu 6 bulan untuk membuat satu karpet berukuran sedang. Harga? Karpet alas tidur berukuran 1,5×1 meter-an dibuka dengan harga 400 dollar, termasuk ongkos kirim ke Indonesia … dan saya ingatkan, Mohon jangan ragu untuk menawar …😀

Masih ada pengrajin sebba, baju khas Tunisia dan topi checha. Topi ini memiliki bentuk seperti peci haci, dengan kunciran wol panjang terurai. Menurut Ridha, proses modernisasi yg dilakukan pemerintah Tunis telah membuat minat generasi muda terhadap apapun berbau tradisional memudar. Jebba hanya dipakai untuk acara-acara resmi, sementara tidak satupun anak muda di Tunis terlihat menggunakan checha. Pembuatnya pun sudah berusia lanjut. Dikhawatirkan checha akan menghilang seiring meninggalnya para pembuatnya. Efek modernisasi juga bisa dilihat di jalanan. Andai tak melihat tulisan berbahasa arab, saya merasa tengah berada di Italia atau Yunani. Sungguh disayangkan untuk negara yg pernah jadi pusat Liga Arab. Ada benarnya juga ucapan menyebutkan Tunisia adalah Tunisia, bukan Arab, bukan Eropa, dan juga bukan Afrika. Bukan Arab lantaran tidak lagi memiliki karakteristik tradisional Arab, bukan Eropa karena memang tidak terletak di Eropa, juga bukan Afrika lantaran perbedaan kebudayaan dan warna kulit.

Sayang waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Waktunya kembali ke hotel untuk persiapan acara resmi nanti malam ….. Setelah dipikir-pikir, rasanya apa yang saya alami di bandara tidaklah sebanding dengan pengalaman saya mengelilingi kota tua Tunis ini, I’ll definetly come again, someday …😀

::::::::::::::::::::::::::::::

*lho kok masuk kategori HOAX ??? … yaaaa, soalnya kan ga ada skrinsyutnya … hehehehehe … kan katanya tanpa skrinsyut itu berarti HOAX … hehehehehe*