Seorang pendatang yang berasal dari salah satu negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam menetap di sebuah kota di Eropa. Di kota itu, hampir setiap akhir pekan ia pergi ke sebuah desa di pinggiran kota tersebut untuk tinggal bersama keluarga Eropa yang berbeda agama supaya bisa lebih cepat dalam mempelajari bahasa. Ia seorang yang selalu berusaha untuk taat kepada agamanya, selalu bangun menjelang fajar untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Air disana, karena pengaruh cuaca, sangat dingin. Setelah itu dia pergi ke tempat shalatnya, untuk bersujud, ruku’, bertasbih dan bertahmid kepada Tuhannya.

Dalam keluarga itu terdapat seorang nenek tua yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan pendatang ini. Setelah beberapa waktu berlalu, terjadi sebuah percakapan :

Nenek : “was tun Sie? das ist kaum Sonnenlicht dort…”
Pendatang : “Mir wurde befohlen, diese Art des Rituals durch meinen Glauben zu tun.”
Nenek : “Warum warten Sie nicht, bis Sie Ihren Schlaf beenden, bevor Sie diese Tätigkeit tun?”
Pendatang : “Diese Tätigkeit wird vom Herrn nicht akzeptiert, wenn ich es nicht in der Zeit tue, sollte es getan werden.”

Si Nenek pun menganggukan kepalanya dan berkomentar, “Ein Glaube, der einen stell zerstören würde”

terjemahan bebas :

Nenek : “Apa yang engkau lakukan ?”
Pendatang : “Agamaku memerintahkanku untuk melakukan ritual ini.”
Nenek : “Mengapa tidak engkau tunda waktunya untuk beberapa saat agar anda bisa lebih menikmati tidurmu ?”
Pendatang : “Tuhanku tidak akan menerima jika aku menangguhkan waktu ritual tersebut dari waktu yang telah ditentukan”

Si Nenek pun menganggukan kepalanya dan berkomentar, “sebuah tekad yang mampu menghancurkan besi baja”

Kekuatan seperti itu merupakan hasil kombinasi yang harmonis antara tekad, kekuatan dan daya, yang semuanya berawal dari keyakinan.

:::::::::::::::

ps, sebagian kata-kata dimutilasi dari buku “La Tahzan”, dan telah disesuaikan dengan sebuah kejadian nyata.