Bagiku, Berlin adalah kota yang untuk banyak hal merupakan lambang kepuasan yang lugu, sebuah taman bermain yang meriah untuk mereka yang berbahagia. Bahkan sekarang, kota ini tidak bisa membangkitkan apa-apa dalam diriku kecuali “pikiran-pikiran paling suram”. Bagiku nama kota ini mewakili lima tahun “masa susah dan kesengsaraan”. Lima tahun di mana aku dipaksa mencari nafkah. Sebuah kehidupan yang bisa dikatakan “kekurangan”, yang tidak pernah cukup menenangkan bahkan “rasa lapar” sehari-hari.

“Kelaparan” kemudian menjadi pendampingku yang setia. Dia tidak pernah berhenti sejenak dan mengambil serta semua yang aku punyai, berbagi dan berbagi. Setiap buku yang aku punya membangkitkan minatku. Hidup adalah perjuangan yang berkelanjutan dengan temanku yang “malang” ini. Akan tetapi selama waktu ini aku belajar banyak –tidak seperti sebelumnya–. Di samping kunjungan-kunjungan yang jarang ke public library dan pusat kesenian, “membayar dalam kelaparan”.

Waktu itu aku suka seluruh isi buku. Semua waktu luangku kupergunakan untuk membaca dan belajar. Dengan cara ini aku membangun dalam beberapa tahun fondasi pengetahuan yang membuatku makmur sekarang ini.

Dan bahkan lebih dari ini : Ketika itu mereka bersama membentuk dalam diriku sebuah gambaran dunia dan sebuah filsafat yang menjadi pondasi kuat semua tindakanku. Sebagai tambahan untuk apa yang kemudian aku ciptakan, aku harus belajar sedikit, dan aku tidak boleh menunda apapun.

Malah sebaliknya. Saat ini aku benar-benar yakin bahwa pada dasarnya, semua gagasan kreatif yang muncul pada masa mudaku sama besarnya dengan yang muncul pada saat ini. Aku membedakan antara kebajikan usia, –yang hanya mengandung ketabahan dan kehati-hatian karena pengalaman sepanjang hidup–, dan kejeniusan anak muda –yang memancarkan pikiran dan gagasan dengan kesuburan tanpa akhir tetapi tidak dapat untuk sementara mengembangkannya karena jumlahnya yang sangat melimpah–.

Ini adalah kejeniusan masa muda yang memberi materi-materi yang membangun dan rencana-rencana untuk masa depan, di mana pada suatu usia yang lebih bijaksana mengambilnya dan menyelesaikannya, yang sejauh ini apa yang disebut :

kebajikan usia belum mampu mengekang kejeniusan anak muda.

::::::::::

ps: kata-kata yang berwarna merah dan dicetak miring hanyalah sebuah perumpamaan.