Artikel ini adalah sambungan dari artikel yang berjudul “Apa Hak Kita ? …” …

::::::::::

Beruntunglah orang yang mempunyai persepsi yang semestina terhadap Tuhan, mengakui kebodohan dirinya, keminiman ilmunya, kekurangan dirinya, keterbatasan haknya dan tindakannya yang aniaya. Kalau pun Tuhan menghukumnya karena dosa-dosanya, dia menyadari hal itu sebagai wujud keadilan-Nya, dan jika Tuhan tidak menghukumnya, maka dia melihat hal itu sebagai wujud karunia-Nya. Jika dia mengerjakan suatu kebaikan, maka dai melihatnya sebagai anugerah dari Tuhan yang dilimpahkan kepadanya. Jika Dia menerimanya, maka itu merupakan anugerah yang kedua kalinya, dan jika Dia menolak, karena yang demikian itu seakan tidak layak bagi-Nya. Jika dia mengerjakan keburukan, maka dia melihatnya sebagai penelantaran Tuhan terhadap dirinya dan tidak adanya penjagaan Tuhan terhadap dirinya. Itu pun tetap merupakan cermin keadilan-Nya. Dengan begitu dia bisa melihat bahwa dirinya memang benar-benar membutuhkan Tuhan, karena dia telah berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Kalau pun keburukan itu diampuni, maka itu semata berkat kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Di sini ada inti masalah dan rahasianya, bahwa tidak ada yang dapat melihat Tuhan-nya kecuali orang yang berbuat kebaikan, dan tidak ada yang dapat melihat diri sendiri kecuali orang yang berbuat buruk, yang mengabaikan atau berbuat kelewat batas. Orang yang pertama melihat apa yang membuatnya senang berasal dari karunia Tuhan dan kebaikan-Nya, dan dia melihat apa yang membuatnya tidak senang, karena berasal dari dosa-dosanya dan itu merupakan keadilan Tuhan.

::::::::::