Saya mempunyai sikap yg ambivalen terhadap agama. Suatu ketika saya mempertunjukkan perasaan kesal saya yg tebal. Tapi pada saat yg lain saya juga menunjukkan kepercayaan saya yg besar kepadanya. Kontradiksi itu timbul dari anggapan tentang dua wajah agama. Tak ada satu agama pun yg tak memiliki dua wajah itu, tak terkecuali Islam. Ada dua wajah Islam, yaitu Islam dekaden dan Islam ideologi.

Islam dekaden

Wajah Islam seperti ini memperlihatkan dirinya dalam kejahatan, memelihara dan membiakkan reaksionerisme, inersia dan pembiusan; ia membendung semangat kemerdekaan dan dengan keliru dan palsu membenarkan status-quo. Islam seperti itu memperlihatkan realitas anti-humanistik. Tapi di lain sisi, sejarah juga telah menunjukkan keunggulan sifat humanistik dari wajah Islam. Realitas Islam inilah yg sejati, yaitu yg mendasarkan diri pada kebenaran, cita-cita kemanusiaan dan aspirasi manusia yg lebih tinggi.

Sebagai agama, Islam adalah agama yg pada hakikatnya merupakan kumpulan dari tradisi asli dan kebiasaan masyarakat yg memperlihatkan suatu semangat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Ia berisikan kumpulan kepercayaan nenek moyang, perasaan individual, tata cara, ritual, aturan, kebiasaan dan praktek-praktek dari suatu masyarakat yg telah mapan, berlangsung dari generasi ke generasi. Kebiasaan-kebiasaan itulah yg kemudian dipelihara oleh penguasa politik untuk melegitimasikan kekuasaan.

Islam ideologi

Islam sebagai ideologi adalah suatu kepercayaan yg secara sadar dipilih untuk menjawab persoalan dan kebutuhan suatu masyarakat. Islam seperti itu merupakan tindakan “kemerdekaan berkehendak” yg berdasarkan pada diktum “tiada Tuhan selain allah”. Agama seperti itu menggerakkan rakyat dan bangsa untuk mencapai cit-cita luhur yg telah lama diperjuangkan. Siapa saja yg telah memilih suatu ideologi tentu pertama-tama memikirkan status kelas sosialnya, kondisi politik dan ekonomi masyarakatnya serta lingkungan zamannya. Dia tentu akan mampu mengetahui mengapa ia tidak puas dengan dan bersikap kritis terhadap sistem yg berlaku. Akhirnya ia akan sampai pada suatu perubahan yg fundamental atau perbaikan sistem yg harus dilakukan.Untuk memberi arah dan tujuan kepada kepercayannya, seseorang mesti memilih suatu ideologi. Ideologi dalam hal ini dipilih untuk mengubah dan merevolusikan status-quo.

::::::::::

Jadi, ada dua bentuk agama; Yang pertama yaitu dalam tahapan sejarah, suatu agama adalah agama tradisional yg hanya mencerminkan semangat kolektif dan kebiasaan masyarakat belaka. Agama tradisional ini tak lain hanyalah cermin dari suatu nasionalitas dan semangat kolektif rakyat yg telah ditransformasikan ke dalam simbol, ritus dan tradisi relijius.

Yang kedua, agama dikembangkan dalam masyarakat yg tak ada kelas klerikal tua sebagai penguasa keagamaan yg menjadi penghalang, dan karena itu anggota masyarakat tergerak untuk mengambil prakarsa dan membentuk keputusan kolektif yg setiap orang anggota masyarakatnya merasa berkewajiban dan terlibat untuk mendiskusikan masalah-masalah keagamaan mereka, memberi penilaian terhadap masalah-masalah itu dan kemudian mewujudkannya dalam pelayanan komunitas. Agama disini berperan sebagai ideologi revolusioner yg praktis dan progresif. Islam dalam bentuknya yg paling sublim adalah agama ideologi.

:::::::::: impressum, bersumber kpd wiki dan buku “marxism and other western fallacies” ::::::::::