Ketika bencana melanda Indonesia secara bertubi-tubi, apakah kita punya hak untuk mempertanyakan keputusan Tuhan ? … Apakah Tuhan harus mengutarakan sebabnya kepada kita ? … Kita tidak punya hak sedikitpun untuk mempertanyakan siapa yang Dia kutuk dan siapa yang Dia berkahi — karena itu semua memang hak dan pilihan-Nya.

Ketika bencana datang, hendaknya kita bercermin, introspeksi, … alam “berulah” karena “diusik” oleh manusia … manusia lah yg salah … itu mutlak … kenapa harus mempertanyakan sebabnya kepada Tuhan ? …

Pantaskah kita mempertanyakan keputusan Tuhan ? … kita hanya manusia biasa dan tak memiliki kekuasaan untuk itu …

::::::::::

Aku terhenyak mendengar kata-kata iblis yg menggema di telingaku. “Aku sebagaimana telah diciptakan Tuhan. Kalau saja aku sudi bersujud ke Adam, aku akan tetap menjadi pimpinan para malaikat, yang paling dekat dengan singgasana-Nya. Aku akan meminta Ibrahim membebaskan Ismail; aku akan menyelamatkan Hajar di belantara gurun; aku akan memberikan kabar kepada Zakaria tentang kelahiran Yunus, dan kepada Maria tentang kelahiran Yesus/Isa; aku akan menyampaikan firman Tuhan kepada Muhammad. Semua ini milikku sebagai harga setundukan kepala. Gara-gara setundukan kepala, aku diusir dan menjadi makhluk yang paling jauh dari singgasana-Nya”

Sebagaimana bentuk dan sosok-Nya, segala pertimbangan-Nya tak dapat dinalar pikiran manusia. Kebesaran-Nya tak terlukiskan oleh kata-kata.

Jangan samakan pikiran kalian, perasaan kalian, persepsi kalian, dan mengatakan bahwa semua itu berlaku pula pada-Nya — bahwa dia juga memiliki pikiran seperti pikiran kalian, perasaan seperti perasaan kalian, dan pertimbangan-Nya sama dengan pertimbangan kalian. Itu adalah anggapan yang sangat bodoh. justru sebaliknya, pikiran kalian, perasaan kalian, persepsi kalian merupakan jelmaan eksistensi-Nya dan eksistensi-Nya adalah bukti atas diri kalian. Jadikan diri kalian sebagai wujud keberadaan-Nya. Tanda-tanda-Nya hidup dalam diri kalian. Momen pengetahuan mendalam yang muncul dengan sendirinya — ini merupakan salah satu tanda keberadaan-Nya.

Sifat-Nya tak terlukiskan sekalipun oleh analogi. Memang, para nabi mengajarkan analogi. Orang-orang menerima analogi-analogi itu sebagai kebenaran harfiah atau kebohongan belaka. Analogi ibarat kompas bagi yang tersesat. Tatkala kalian telah sampai di tujuan, singkirkan itu. Beberapa pertanyaan tak dapat dijawab oleh analogi. Berdiri di bawah bintang utara, tak ada arah yang disebut utara. Analogi tidak memberitahu kalian apa yang Dia kehendaki. | ::: dimutilasi dari buku “The Men Who Have The Elephant” ::: |

— to be continued —

::::::::::

sambungan artikel ini bisa dibaca di sini!

Iklan