Islamisasi dan Arabisasi

Suatu hari saya berdiskusi soal janggut dan pakaian jubah atau gamis berikut sorban yang digunakan oleh sebagian jemaah di sebuah mesjid. Sebagian orang ada yang fanatik habis-habisan akan hal-hal tersebut, bahwa inilah sunnah rasul, ciri bersyiar seorang muslim atau muslimah, juga adab sopan santun berpakaian yang terbaik. Bagi saya, sah-sah saja seseorang memandang sesuatu dari sudut keberpihakan. Berpihak pada sebuah keyakinan yang sudah tertanam dalam jiwa, meskipun entah atas sebuah pencarian atau karena doktrin yang berlebihan dari sebuah pihak yang disandarinya.
Tentang janggut, saya banyak mendengar kesukesan dalil yang melegalisasinya sebagai sunnah muakkad. Juga dalam beberapa hal yang menyangkut kesopanan berpakaian menurut budaya arab. Entah budaya arab jaman Rosulullah SAW, entah budaya arab masa kini. Yang jelas, menurut saya hal tersebut adalah budaya arab yang melekat seiring dengan tersebarnya islam di Indonesia sejak berabad-abad silam.

Bagian yang menarik adalah bahwa fenomena kebiasaan berpakaian ini harus disikapi dengan sebuah kesadaran yang seimbang, sejauhmana benang merahnya antara Islam yang rahmatan lilalamin dengan toleransi Islam terhadap budaya yang berkembang di sebuah tempat di luar jazirah arab. Saya melontarkan sebuah pertanyaan, layakkah sebuah budaya khususnya yang menyangkut kebiasaan berpakaian yang dibangun di sebuah daerah harus mengap-mengap terkokang dalil-dalil taqlid? Tidakkah terlalu berlebihan, jika sebagian yang berpihak pada budaya Arab tersebut merasa lebih muslim dari sebagian yang tidak berpihak ke sana? Bukankah Islam memberi kebebasan dalam mengembangkan budaya yang tidak bertentangan dengan aqidah.

Jika dulu Rasulullah SAW berpakaian jubah atau gamis, bersorban serta berjanggut, itu karena Rasulullah SAW memiliki sens yang tinggi pada budaya Arab di mana Rosulullah SAW tinggal. Bukankah Abu Jahal, Abu Lahab dan kaum kafir di zaman jahiliyyah pun bepakaian seperti itu. Saya kira tak ada yang setuju jika dikatakan bahwa semua yang berpakaian jubah atau gamis, bersorban serta berjanggut, adalah mengikuti kebiasaan Abu Jahal atau Abu Lahab. Kaum kafir Arabkah yang meniru pakaian Rosulullah SAW, atau Rosulullah SAW yang menerima dengan senang hati budaya berpakaian saat itu? Bukankah yang paling utama dalam Islam adalah menutup aurat, bukan pakaian jenis apa yang harus dipakai. Menutup aurat dengan apa yang dianggap sebagai hal yang wajar dan sopan di sebuah lingkungan di mana Islam itu dianut.

Taqlid Sepanjang Masa

Islam adalah agama yang menuntut penganutnya untuk berfikir untuk meningkatkan keimanannya dari sekedar iman taqlid menuju iman bil-ilm, iman yaqin dan a’inul yaqin. Berfikir untuk mengkaji kondisi zaman dengan merujuk pada Al-Quran dan Hadist, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan kemasyarakatan, dan kondisi-kondisi yang perlu di tafsiri dan ditaklukkan.

Dalam diskusi, saya terkesan pada kefasihan sebagian yang berpihak pada kaum berjanggut beserta aksesorisnya, dalam membuka dalil-dalil dan pemikiran-pemikiran Imam-imam masa lalunya yang menguatkan keberpihakan mereka. Berpihak dengan serius untuk semakin memperkuat keyakinannya, bahwa inilah yang paling shahih dan paling utama. Sebuah taqlid yang tajam yang mampu menancapkan diri mereka sebagai komunitas yang menunjukkan secara terang-terangan keberpihakannya.

Sebuah wacana tentang perlunya menafsiri sebuah kondisi yang beda di setiap daerah di mana Islam tersebar, atau wacana tentang menaklukan sebuah keadaan dengan pemikiran-pemikiran baru yang dilonggarkan oleh Al-Quran dan Hadits, membutuhkan referensi terdahulu dari dalil-dalil yang sudah ditaqlid banyak pihak. Wacana seperti ini, bagi saya justru melahirkan sebuah pemikiran, seakan-akan zaman ini adalah zaman taqlid, bahwa pendasaran sebuah hukum melulu didasarkan pada pendapat-pendapat hasil ijtihad ulama-ulama terdahulu, terutama yang banyak diambil hukum-hukum yang dilegalisasi pada rentang abad 1 sampai 4 hijriyah. Sepuluh abad yang miskin pemikiran-pemikian hasil ijtihad baru, seakan-akan Allah dan Rosulullullah SAW lebih menekankan kaum muslimin untuk bertaqlid, bukan berijtihad. Taqlid yang tak hanya melanda masyarakat awam, tapi juga melanda sebagian para ulama, baik kaum berjanggut ataupun yang bukan.

Hal lain yang saya tangkap dalam pemikiran kaum berjanggut, adalah lebih kuatnya rasa takzim terhadap pendapat-pendapat yang muncul dari imam-imam terdahulu, dari pada kaum non janggut. Sebuah ketaatan yang layak diacungi jempol, di saat banyak komunitas muslim lainnya yang meremehkan kaum berpihak sambil acuh-tak acuh terhadap hukum-hukum yang ditaklidkan tersebut, tanpa mampu berijtihad dengan benar. Kecenderungan lain yang saya tangkap dari kaum berjanggut adalah adanya ketakutan untuk berbeda pendapat dengan referensi-referensi sandaran taqlid mereka, walaupun hal tersebut meragukan, walaupun bahkan dilonggarkan oleh Al-Quran dan Hadist untuk di tafsiri lebih luas sebagai bentuk ijtihad lain yang modern.

Lebih luas dari wacana taqlid dan ijtihad, fenomena berfikir dan berkeyakinan kaum berjanggutlah yang paling menarik untuk dibicarakan. Berangkat dari keeksklusifan mereka –meskipun pada dasarnya semua orang adalah eksklusif dalam komunitasnya– dalam pandangan saya hal ini mampu menutupi kekeliruan-kekeliruan yang dihasilkan dari ijtihad-ijtihad terdahulu tersebut. Bukankah seorang ulama besar seperti Imam Malik Bin Anas pernah berkata, “Aku adalah manusia biasa yang bisa benar bisa salah.” Ini mensiratkan bahwa para ahli ijtihad menyatakan hasil ijtihadnya tidak semuanya final. Ada kemungkinan sebagian benar dan layak untuk ditaqlidi dan dibela pendapatnya, juga kemungkinan sebagian keliru dan diharuskan oleh para ahli ijtihad sendiri untuk ditinjau lagi dan bahkan diijtihadi lagi.

Hal-hal sederhana menyangkut sebuah kaum dengan kebiasaan berpakaian jubah atau gamis, bersorban serta berjanggut, ternyata memunculkan wacana-wacana yang lebih jauh, bahkan menyangkut hukum-hukum yang mapan di kalangan komunitas-komunitas islam lainnya. Wacana seperti ini tak hanya mengemuka di kalangan kaum berjenggot, juga menampar kalangan umat Islam yang lebih luas yang notabene masih terkungkung taqlid yang cenderung berlebihan dan dibela mati-matian. Dalam sebuah diskusi, setelah apa yang keluar masuk fikiran saya yang dimulai dari hal sederhana tentang janggut dan aksesorisnya, saya merenungkan bahwa hal-hal sederhana mampu membentuk sebuah kesempurnaan, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang sederhana.

Kaum Moderat dan Rasionalisasi

Yang saya tangkap, tentang kalangan Islam lainnya yang dianggap bersebrangan keras secara pemahaman dengan kaum berjenggot, adalah adanya kecenderungan kalangan tersebut menghindar terlalu jauh dari banyak taqlid, terutama yang dianggap tidak rasional. Kalangan ini dianggap terlalu berani berijtihad –terlepas dari layak dan tidaknya untuk berijtihad– dan cenderung mencari pemikiran-pemikiran yang lebih baru dan modern. Ekses lainnya, adalah adanya fenomena berpemahaman yang lebih keras dari sebagian kalangan moderat, termasuk di antaranya menafsir Al-Quran dengan terlalu mendasarkan pada rasio atau bahkan sampai tidak mengindahkan hadist-hadist yang dianggap tidak ada relevansinya dengan kekinian.

Keberagaman pemahaman kaum moderat, dari yang lebih lunak sampai yang paling keras, bagi sebagian kaum berjanggut dijadikan alasan untuk menyatakan kembali kepada Al-Quran, Hadist, dengan tafsir tradisionalnya dan pemahaman-pemahaman ulama terdahulu kalangan mereka. Ini juga memperkuat justifikasi mereka pada gagalnya semua ijtihad-ijtihad masa kini. Kaum berjanggut memantapkan diri untuk kembali kepada zaman Rasulullah dan beberapa Imam yang mereka taqlidi dengan doktrin yang diciptakan sendiri.

Wacana ini kemudian tak hanya sekedar janggut dan taqlid, tapi juga membawa pada hal-hal yang lebih substansial, yaitu adanya perbedaan yang lebih signifikan dalam pemahaman tentang Islam, terutama yang menyangkut pemahaman tauhid dan hal-hal yang berhubungan dengan peribadatan. Ada unsur sufistik yang mempengaruhi kedua kalangan tersebut, di antaranya menyangkut kalangan mana yang dituduh menyandarkan Islam secara sakral, misalnya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk mencapai keridlaan sang Khaliq, dan kalangan mana yang dengan tafsir yang lebih modern, menolak hal-hal konvensional dan menjadikan Islam sebagai sesuatu yang terbuka untuk dipahami dari berbagai sudut yang terlalu mementingkan rasio.

Secara sederhana saya membuka pandangan bahwa sebagian umat Islam adalah penakluk, sebagian ditaklukan dan berfihak, dan sebagian lainnya hanya penafsir. Saya tak menghakimi kaum berjenggot di kalangan yang salah, dan juga yang lain dikalangan yang benar, atau sebaliknya. Untuk membuka sebuah wacana saja, tak semua pihak bersedia, sebagian beralasan karena itu tak ada relevansinya dengan keimanan atau ketaatan, apalagi yang menyangkut hal-hal yang rawan khilafiahnya. Sebagian lainnya beralasan tidak mewacanakan beberapa hal karena sudah dianggap selesai terjawab oleh taqlid. Namun sebagian yang rajin membuka wacana juga banyak dipengaruhi oleh berbagai pemikiran yang lebih absurd dan ketidakpuasan tertentu secara rasional dan psikologis.

Akhirul kalam, kaum berjenggot ataupun bukan, semuanya paling layak diterima menurut pemahaman versi masing-masing. Bagaimanapun di zaman ini tak ada yang bisa klarifikasi langsung face to face kepada Rosulullah SAW, kecuali kembali merujuk pada Al-Quran dan Al-Hadist, tentu saja dengan kajian dan penafsiran masing-masing. Bukankan atthariqah kassafinah, masing-masing kelompok umat dengan pemahaman keislamannya dalam perahu masing-masing menuju keridlaan Allah SWT. Wallahu’alam.***

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Penulis : Sarabunis Mubarok