Demokrasi memang telah disemai di kawasan Timur Tengah. Namun dinamika baru itu sepertinya tak membawa harapan yang baru di sana. Kemajuan peradaban Islam yang pernah berjaya di kawasan Timur Tengah, agaknya sulit terlahir kembali. Inilah pesimisme yang saya tangkap setelah mengamati dinamika politik, sosial dan keagamaan di gugusan negeri yang pernah melahirkan para Nabi. Pada dekade terakhir ini, umat Islam di sana berkubang dalam lumpur yang sama; konflik politik yang campur-aduk dengan agama. Teori dan perangkat politik modern seakan tak berdaya, menghantam kerasnya budaya dan karakter Arabisme.

Beberapa negeri yang membuka kran demokrasi seperti Irak, Libanon, dan Palestina, saat ini malah terjebak konflik saudara. Sedangkan negeri-negeri yang masih terjamin stabilitasnya karena diperintah kekuasaan yang tiran, seperti Mesir, Syiria, dan beberapa negari Teluk tinggal menunggu `bom waktu’ yang bisa meledak bila ada pergantian kekuasaan.

Sayang, kedaifan mereka melihat masalah internalnya, tidak diakui secara kesatria dan jujur. Konflik dan benturan dituduhkan sebagai hasil dari konspirasi negeri-negeri jiran dan Barat. Padahal kita tahu, yang namanya pihak dan kebijakan yang sering sebut “Barat” itu tidak pernah seragam menyikapi umat Islam di Timur Tengah. Ia kambing hitam belaka.

Bagi saya teori konspirasi ini memiliki andil yang besar memupuk kejahilan dan menumpulkan daya kritis nalar umat Islam dalam melihat persoalan internal. Padahal jika mau sedikit jujur konflik yang saat ini tersebar di kawasan Timur Tengah, antara Syiah dan Sunni, Arab dan Persia, hakikatnya mengulangi pengalaman sejarah umat Islam di masa silam.

Saya ingin mengutip komentar dari Abul Fatah al-Syahrastani dalam karyanya yang termasyhur, al-Milal wa al-Nihal (Aliran-aliran Keagamaan). Menurutnya, a’dzam al-khilâf bayna al-ummah khilâf al-imâmah (politik adalah sengketa terbesar dalam sejarah umat Islam). Dari kitab al-Syahrastani ini saya ingin memeras dua poin. Pertama, benturan yang terjadi antar Islam lebih banyak terjadi daripada benturan antar umat Islam dengan kelompok lain. Kedua, benturan tersebut meski acap kali berjubah teologi, namun wujud sebenarnya adalah sengketa politik.

Kitab al-Syahrastani ini secara khusus mengupas munculnya aliran-aliran teologis dalam agama Islam. Namun menurut dia, “pedang yang terhunus karena perbedaan agama tak sebanding dengan persengketaan politik.” Al-Syahrastani meninggal pada medio abad ke-6 Hijriyah (12 Masehi). Tepatnya tahun 548 H. Dimana Perang Salib yang banyak diasumsikan sebagai babak benturan paling dahsyat antara Barat dan Islam telah terjadi satu abad sebelumnya: 11 Masehi. Namun kitab al-Syahrastani ini tetaplah menyorot sengketa internal umat Islam yang telah memanjang selama enam abad.

Bila membaca kitab ini lagi, ia serasa baru ditulis kemaren pagi walaupun usia sebenarnya sembilan abad. Pasalnya di hari ini kita bisa menyaksikan konflik-konflik berdarah antar umat Islam di beberapa belahan dunia dengan mudah. Konflik bersenjata antara kelompok Sunni-Syiah di Irak dan Libanon, Hamas-Fatah di Palestina, kelompok Milisi Islam dan pemerintah sementara di Somalia.

Pada hemat saya, ranah inilah yang semenstinya menjadi fokus perhatian umat Islam, yaitu munculnya fenomena “benturan antar Islam”, bukan seperti yang dilangsir oleh Samuel P. Huntington, “benturan antarperadaban”. Pun tesis Huntington ini acap kali disimpulkan secara gegabah: benturan antara Islam dan Barat. Tesis ini dengan mudah dijadikan sebagai dalih untuk membenarkan bahwa konflik yang secara lahiriah terjadi dalam umat Islam, namun merupakan konspirasi Barat.

Saya tak hendak membela Barat, karena kepentingan dan harapan saya terhadap umat Islam lebih besar dari pada harapan saya terhadap Barat. Namun saya mengutuk pola pikir yang saat ini menjamur di kalangan umat Islam. Teori konspirasi tidak akan pernah melahirkan solusi guna menghadapi permasalah, malah akan semakin menjerumuskan pada “lingkaran setan” yang tak berawal dan berakhir.

Dalam buku yang berjudul Dirâsah Li Syuqûth Tsalâtsîn Dawlah Islâmiyah (Studi Atas Jatuhnya Tiga Puluh Nagara Islam) yang ditulis Dr Abd Halim Uwais menunjukkan bentuan antarpuak Islamlah menjadi faktor utama dari jatuhnya pemerintahan dinasti Islam. Ada saja sebab-sebab perpecahan itu. Meskipun mereka menganut satu agama (Islam), namun dicerai-beraikan perbedaan kabilah, etnik, dan orientasi teologis.

Dinasti Umayyah di Damaskus Syria jatuh bukan karena serangan Imperium Romawi atau Persia, namun oleh Dinasti Abbasiyah. Demikian juga Dinasti Umayyah di Andalusia Spanyol yang kejatuhannya diratapi sebagai “Firdaus yang Hilang” (al-firdaws al-mafqûd) diruntuhkan oleh Dinasti Amiriyah yang selanjutnya di kawasan ini bertikai para Dinasti Islam: Dinasti Murabith dan Muwahid.

Dinasti Abbasiyah yang tegak selama kurang lebih 5 abad memang dijatuhnya oleh tentara Mongol pada tahun 1258. Namun menurut Dr Uwais tadi, tentara Mongol menyerang sebuah kekuasaan yang telah lemah: setelah Dinasti ini digerus kekuasaannya oleh dinasti-dinasti yang melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah.

Namun saya berbeda pendapat dengan faktor lain yang dikemukakan oleh Dr Uwais mengenai jatuhnya Dinasti Abbasiyah yaitu hilangnya ruh jihad. Padahal, menurut hemat saya, umat Islam waktu itu memiliki konsep jihad, namun kebablasan; memerangi saudara sendiri yang satu agama, satu etnik, dan dihitungnya sebagai jihad!

Begitu halnya Bagdad yang jatuh ke Amerika pada Maret 2003, karena dipicu invasi Saddam terhadap Kuwait, 1990. Saddam juga mengobarkan perang terhadap Iran dan berseteru dengan Saudi Arabia. Fakta lain: faktor terbesar semakin menipisnya harapan terhadap negara bernama Palestina, tidak hanya disebabkan kebengisan Israel, namun juga perpecahan antara Hamas dan Fatah. Meski di negeri itu sudah digelar demokrasi, namun perbedaan diselesaikan melalui cara-cara milisi. Pun demikian yang terjadi saat ini di Libanon: barisan penentang dari Kaum Syiah, barisan pemerintah dari kaum Sunni. Dan sepanjang sejarah di negeri ini, perang saudara sering dimanfaatkan oleh Israel.

Ke depan di kawasan Timur Tengah yang akan mempengaruhi Dunia Islam secara umum munculnya benturan antara Poros Iran-Syria dan Hamas yang berusaha merebut pengaruh dari Liga Arab yang dikuasasi rezim-rezim otoriter terutama Mesir dan Saudi.

Di sini label politik lawas: Sunni dan Syiah akan terus bertarung atas nama agama. Benturan ini akan mengulangi sejarah 14 abad yang lalu. Dimana tiga dari empat pemimpin Islam yang Lurus (al-Khulafâ’ al-Râsyidûn) terbunuh gara-gara persoalan politik: Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dua nama terakhir dibunuh oleh orang Islam sendiri yang selanjutnya memunculkan dua golongan besar pendukung mereka: Sunni dan Syiah.

Walhasil, inilah yang perlu diwaspadai oleh umat Islam ke depan: benturan yang terjadi antarumat Islam sendiri: benturan antar Islam, bukan benturan Islam dengan yang lain.

Sumber: GATRA Nomor 16, 1 Maret 2007

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Apakah ada poin-poin tertentu yg digunakan untuk berbenturan ?