Ini adalah kisah tentang perjalanan Kyai abdul manap bersama santrinya yang sedang bertamu di kediaman Kyai Hasan Besari, kyai linuwih di pondok tjepekan.
:::::
Diceritakan di tjepekan –pondok besar tempat santri mengaji– yang merupakan sebuah pesantren yang sangat terkenal. Tersohor sampai ke luar daerah. Kyai di pondok tjepekan sangat terkenal, ia adalah seorang guru yang alim, tiada yang menandingi. Namanya Kyai Hasan Besari.
Ia memang terkenal sebagai ulama. Ditiru dan digugu oleh para santri. Muridnya berjumlah tiga ratus, yang datang dari berbagai wilayah di tanah Jawa. Sesaat setelah Isya’, setelah menunaikan shalat di surau, semua santri mengaji. Kyai Guru segera mengajar kitab Fikih dan Tafsir.
Macam-macam kelakuan santrinya. Ada santri yang sedang memahami Al-Qur’an. Ada juga yang sudah paham menghafalkan Kitab Sitin. Agar berhasil, mereka saling bertanya di antara temannya.
Tetapi banyak santri yang kurang paham. Punya kepercayaan diri tinggi, merasa hebat. Santri yang sudah menguasai makna Al-Qur’an itu biasanya suka menyendiri, dan juga suka mendebat Kyai Guru. Juga memaknai lafal Qur’an semaunya sendiri. Namun setelah kalah berdebat ilmu dan diberitahu, sebagian santri yang hafal makna itu ribut berdebat seperti air terjun. Itulah kehidupan di pondok pesantren Kyai Besari, kyai paling terpandang.
Di tengah kehidupan yang gaduh tetapi tenang di pondok pesantren ini, tiba-tiba dua santri , mendatangi Kyai Guru, memberitahukan datangnya tamu. Mereka adalah Abdul Jabar, Ahmad Arif dan Kyai Abdul Manap, serta enam sahabat yang tidak terpisahkan. Mereka masuk, bersahutan salamnya. Yang sedang mengaji menutup kitabnya. Tamu itu segera naik surau dengan tergopoh-gopoh, saling bersalaman merata, para santri naik ke surau dengan sopan. Kyai Hasan Besari berucap, “Sepertinya ada kepentingan. Pukul berapa berangkat dari pondok redjasari ?”
“Setelah subuh. Ketika fajar menyingsing. Tiba sampai malam, karena terlalu lama berhenti di jalan. Berhenti untuk berdebat, dan kalah melawan orang kufur bernama Gatolotjo.” kata Kyai Abdul Jabar.
“Wajah laki-laki itu tidak berharga. Kelihatannya seperti anak setan. Anak iblis pembawa linggis, yang digunakan untuk merusak dan meremukkan agama Rasulullah. Yang benar dipukul hingga putus. Jika retak dirusak sekalian. Agama pun diobrak-abrik. Semua aturan dilanggar, diacak-acak dan dijungkirbalikkan. Ia hanya bermaksud merusak. Dijawabnya dengan satu perkataan, gelagapan saya tak bisa menjawab. Sebab semua yang haram dirampas, merusak aturan dan sirik”
“Ia penuh akal dan nakal. Sangat ngeyel dan berlaku tak sopan. Semua pengetahuan diketahuinya. Semua pasal disangkalnya. Dalil-dalil diartikan semaunya. Saya kewalahan. Menunduk bukan mengangkat muka. Karena meski membantah tetap kalah. Saya tak betah dipermalukan dan diejek. Semua alasan diburunya. Semua jawaban tidak ada yang bisa memenangkan.”
“Malah saat diladeni untuk saling mengumpat tidak mempan. Tambah ribut. Selanjutnya nak mengarah kepala. Tambah ribut. Seperti maling yang akan diadili. Saya selalu diungguli, tetapi sial tak bisa mengungguli. Saya minta kepada Yang Maha Agung, selama hidup, jangan sampai ketemu orang seperti dia. Kalau ketemu saya sudah terhina karena kapok dicacimaki.”
Panjang lebar sang tamu bercerita. Kyai Hasan Besari mendengar penuturan itu ikut terpancing. Ia marah. Giginya gemeretak. Matanya menatap tajam. Kyai Hasan Besari berkata keras.
“Patut seperti rupamu. Santri remeh saja. benar, kau gundul kepala. Buntu tak punya akal. Belum pantas dijadikan guru. Guru bodoh, pengetahuanmu hanya sedikit. Tak ada lain pengertianmu. Mendatangi sembarang rumah. Bisanya hanya berdo’a, mengaji Kulhu Lamyakunil.”
“Berbeda dengan saya. Gundul karena kesundul agama. Putih sorban karena pandai bicara. Kalah satu hal mengambil dari yang lainnya. Maka, pecinya dibuat dari rotan. disegani sebagai santri ulama, tidak heran pengetahuanku banyak. Menerawang tembus atas bawah. Karena itu baju kebajak. Bisa mengungkap pada pengetahuan halus dan kasar. Ikat pinggang berwarna-warni, pengetahuanku pun beraneka ragam.”
“Ilmu Jawa, Belanda, Cina, Turki, Kamboja, Hindu, Benggala, Keling, semua itu sudah terserap. Aku simpan dalam wadah pengetahuan Arab. Sejak muda hingga tua. Pengetahuan Jawa tidak mengecewakan, karena aku memang suku Jawa. Karena itu berasarung lebar, longgar luas melebihi yang rumit. Semua ilmu aku tahu. Dengan tasbih sebagai senjata. Semua pengetahuan yang lebih halus, tidak ada yang bisa menyamaiku.”
“Aku mengenakan sandal kayu, kemanapun pergi selalu unggul. Makanya tepat pedomanku. Benar tidak meleset. Menerawang keluar, ke dalam, ke atas, ke bawah. Seumpama aku kalah, menjadi manusia yang tanpa budi. Sesungguhnya aku malu. Carilah sekarang ada di mana si Gatolotjo yang kurang ajar itu. Aku akan memberitahu, rupanya manusia yang kurang urus.”
Ahmad arif berujar, “Ketika tadi saya pergi, ia membuntuti di belakang jalan saya. Kira-kira malam ini juga, mungkin ia menginap di kota Pungkur.”
“Jika ia kesini aku jewer telinganya. Kalau kalah melawan manusia perusak aturan itu lebih baik sobek bibirku. aku akan mempermalukannya.” kata Kyai Hasan Besari tak dapat menyembunyikan kejengkelannya.
:::::::: episode 1 dari Gatolotjo series. ::::::::
.
.
.
Semoga bisa didapat makna positif yang tersirat dari apa-apa yang tersurat di atas … semoga kebijaksanaan menuntun semua orang.













34 comments
Comments feed for this article
September 11, 2007 pada 8:28 am
Joerig™
…:::…
September 11, 2007 pada 8:30 am
cK
komen dulu. lagi sibuk soale…
September 11, 2007 pada 8:54 am
caplang™
masih mencari tahu ttg serat ini
September 11, 2007 pada 9:28 am
itikkecil
ngabsen dulu bu…. mau pulang…. besok komen lagi….
September 11, 2007 pada 10:34 am
gusgus
huhmmm… ternyata berminad juga dgn sastra Jawa ya, diajeng…
akan ku simak hingga tuntas utk episode ttg ini ya…
September 11, 2007 pada 11:22 am
gies
teh, selamat menunaikan ibadah puasa yaa…
tolong dimaapken segala kesalahan sayah…:)
September 11, 2007 pada 1:18 pm
danalingga
lanjutannya mana nih?
September 12, 2007 pada 3:10 am
dalamhati
weleh..jangan bikin penasaran dong!
September 12, 2007 pada 7:14 am
deking
Kyai berkata:
Membandingkan antara santri dan sang kyai…
Mmmm ternyata didikan yang berhasil.
BTW ditunggu kisah selanjutnya Teh…
September 12, 2007 pada 8:29 am
Mihael "D.B." Ellinsworth
Kupipes ?
*Digetok palu*
September 12, 2007 pada 8:50 am
Joerig™
@cK,
@caplang™,
silahkan …
@itik,
silahkan …
@gusgus,
monggo …
@gies,
sama-sama …
@dana, dalamhati,
santai santai …
@deking,
wah teliti juga ya …
@debe,
gatolotjo itu dibuat dijaman baheula … pake jawa kuno, kalo ngga diterjemahin banyak yg ga bisa baca & ngerti … makanya contekannya aku pasang disini …
September 12, 2007 pada 9:38 am
nK
walah, ada joerig yg nyantri…….
cK…. cK… cK…
September 13, 2007 pada 6:57 am
Ferry ZK
makna positif apanya jeng, klo mo beri pencerahan mbok ya secerah – cerahnya, anda menarik simpul membuat orang percaya, bahwa muslim seringkali jumawa, padahal pendek akal lagi pendengki, masa iya seh ???
kalau memang sang kyai kurang budi, apa maksud menjejal bukti ? hendak menghujat atau menasehati ? ataukah diri merasa lebih tinggi ???
lagi – lagi pengikut wadehel sejat… (* keluh *)
September 13, 2007 pada 10:10 pm
nrkhlsmjd
ini pake bhs apaan ya?
mbulet…!!!
September 14, 2007 pada 2:21 am
Joerig™
@nK,
cK … cK … cK …
@Ferry ZK,
bukannya itu kesimpulan yg anda buat sendiri …
@nrkhlsmjd,
pake bahasa planet …
September 14, 2007 pada 3:48 am
NesiaWeek
Hari ini setidaknya ada dua hal yg saia tunggu: waktu berbuka dan episode duwa.
September 14, 2007 pada 4:44 am
Ferry ZK
diajeng pandai bersilat lidah rupanya, bukankah postingan diajeng mengarah kesana ???
September 14, 2007 pada 4:48 am
Joerig™
@nesiaweek,
untuk serial ini, mungkin terbitnya sekitar 2 minggu sekali …
@Ferry ZK,
mungkin anda belum membaca kalimat pada paragraf ke-2 yg ada di sidebar …
September 14, 2007 pada 5:17 am
danalingga
mana lanjutannya?!!!!
*demo*
September 14, 2007 pada 5:19 am
danalingga
eh komennya di sini toh, kok saya bisa nyasar di sebelah?
September 14, 2007 pada 5:19 am
danalingga
kesempatan bagus buat hetrik nih.
September 14, 2007 pada 6:20 am
Ferry ZK
halah kena letter S ya saya hi… hi… susah yaaa apalagi klo paragraf pertama hi… hi…
September 14, 2007 pada 2:59 pm
rivafauziah
Blog ini dikelola dengan menggunakan falsafah B.A.K.A … Blog Aing Kumaha Aing ! …
\Terserah JOERIG aja deh…!
September 14, 2007 pada 4:33 pm
'K,
ayo,,lanjutin aja ju
gawsah didebatin
apa2 didebatin
get a life!!!
September 14, 2007 pada 4:35 pm
'K,
ju, kalo nunggu 2 minggu kelamaan
kirimin ke mail aja yah
September 17, 2007 pada 4:47 pm
telmark
nungguin lanjutannya.
September 20, 2007 pada 9:54 am
Ahsan
Ujung-ujungnya kyai Hasan Besari pun “kalah” berdebat dengan Gatoloco. Perdebatannya masih terus berlangsung dengan orang lain, termasuk rombongan putri-putri cantik.
Serat Gatoloco ini kalau menurut saya diciptakan sekedar untuk mengcounter perkembangan Islam pada saat itu. Sang Pengarang mempunyai latar belakang kemampuan filosofi yang mumpuni.
Tetapi saya tidak mengerti kenapa serat ini pernah dilarang pada jaman Orba.
ya udah Teh, terusin aja. Dulu saya pernah punya tetapi hilang. Yang paling saya suka yaitu waktu Gatoloco berdebat dgn 2 orang tukang rumput. Lucu.
September 21, 2007 pada 4:38 am
Ferry ZK
@ Ahsan,
Klo saya lihat malah bukan hanya meng-counter tp juga membentuk cara pandang yang berbeda dalam konsep pemikiran ISLAM dan mengarah pada pembenaran ISLAM gaya KIUK, halah ternyata orba masih lebih waras…
Oktober 3, 2007 pada 3:51 am
Joerig™
@semua,
episode 2-nya abis lebaran di-launching …
Oktober 11, 2007 pada 7:29 am
sikendi
teu ngarti a.k.a ngga ngerti
asik abis lebaran episodenya di lanjutkan….tambah ngga ngerti deh gw
kuring oge pake falsafah yang sama nih…..S.A.K.A……
S.A.K.A.D.A.E.K.A.I.N.G hahaha….
di utnggu lanjutannya……
Oktober 14, 2007 pada 3:18 pm
danalingga
Wah, teh gue dah keburu beli bukunya nih.
Malah dah buat puisi segala , menggambarkan pemahaman saya atas serat ini.
Oktober 21, 2007 pada 4:16 pm
kurtubi
Aduuh meski telat bageur pisan euy postingan ini.. …ditunggu lanjutannya baru komentar heheh
Nopember 18, 2007 pada 8:20 am
zordon
lanjutane mana??????
Januari 25, 2008 pada 7:42 am
moch. iqbal chahyadi
bikin penasaran aja????