Agama-agama pada saat kelahirannya tidak mengandung unsur golongan pemerintah. Terutama sekali Islam. Dan baru saja saya membaca suatu diskusi mengenai hal ini dalam saalh satu tulisan sekumpulan orang revolusioner Amerika Latin. Mereka sangat bangga akan kenyataan bahwa mereka dapat berkata, “Kami tidak mempunyai produsen dan kaum intelektual. Kami tidak terpecah ke dalam kaum revolusioner yang bertindak dan kaum itelektual yang berpikir dan membangun ideologi. Jadi, kami semua satu. Orang yang menyebarkan ideologi juga bertindak, dan yang bertindak juga berpikir. Kami semua adalah satu.”
Jelas, bahwa dalam persoalan ini telah juga dipecahkan dalam Islam. Diantara para sahabat Rasulullah dan kaum mujahidin pada permulaan masa Islam, siapa kaum intelektual, siapa aktivis, siapa ulama ? … Sama sekali tak ada klasifikasi semacam ini. Setiap orang yang menyebarluaskan Islam berjuang dan juga bertani, menanam korma atau menggembala onta. Yaitu, setiap orang adalah sekaligus pekerja, pejuang dan intelektual.
Baru kemudian kelas-kelas muncul dan ulama menjadi salah satu diantaranya. Karena kelas resmi ini umumnya harus bekerja untuk melayani kepentingan kelasnya dan membantu pendukung kelasnya, maka kelas ini memasukkan kepentingannya ke dalam agama formal. Mereka mulai membius rakyat. Karena itu, agama resmi secara otomatis menentang sebuah gerakan yg bersifat revolusioner. Ia akan memeranginya sampai nafas terakhir. Di mana pun gerakan ini timbul, agama resmi menentangnya, semata-mata atas nama agama.
Dan beginilah pemikiran modern menghadapi persoalan tersebut : agama secara esensial adalah pembenaran pada tatanan yang ada, untuk merusak rakyat dan menguntungkan minoritas. Kita melihat memang itulah yang terjadi. Ada gerakan lain yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan agama, tetapi hanya berusaha untk membebaskan orang dari penindasan. Agama menuduh bahwa pergerakan ini tidak punya iman sama sekali. Jelas, dalam hal ini tidak ada sedikitpun “bau” agama di dalamnya. Di sini pembicaraan mengenai mistisme dan spiritualitas hanyalah kebohongan, sesuatu yang membantu memperkokoh status-quo.
::::::::::: sumber : wiki, ats[dot]com, usc-msa ::::::::::













14 comments
Comments feed for this article
Juni 20, 2007 pada 3:34 am
jurig
…:::…
Juni 20, 2007 pada 3:36 am
Suluh
Mosok sih ngunu kuwi…. Wah bingung aku
Juni 20, 2007 pada 3:44 am
Kang Kombor
Agama ketika datang membawa revolusi. Ketika agama itu mapan, mengapa menentang ide revolusioner?
Juni 20, 2007 pada 3:46 am
riza
aq macul dishik mbak, garapan akeh
Juni 20, 2007 pada 3:50 am
venus
waaah berat neeeeh…
Juni 20, 2007 pada 4:04 am
Kangguru
hehehhe naku sich ngeblog aja ach
Juni 20, 2007 pada 6:21 am
riza
minimal 9 kali dalam sehari telunjuk ini dilentikkan sambil berikrar tidak ada Tuhan selain Allah… (sungguh tidak ada, sehingga aku akan mematuhi semua perintahMu dan menjauhi semua laranganMu Allah… please percaya aq deh
) dan Muhammad rasullullah (jadi risalah yang dibawa oleh Muhammad adalah wujud dari perintah n laranganMu ya Allah, so.. i’ll follow it).
sementara itu, diperintahlah aq untuk shalat, zakat, puasa, haji, melaksanakan hukum hudud (ex: qishas, rajam, potong tangan), meninggalkan riba, khamr, judi, amar makruf nahi munkar, membaiat seorang khalifah, dll.
tapi… bagaimana ini, perekonomian negara diatur dengan riba. ingin buka usaha jg modalnya gmn dong. hukum hudud tidak dijalankan padahal ada berapa kasus zina, pembunuhan, n kriminalitas lain dalam satu hariii saja. kesehatan mahal sehingga yg ada asuransi (lho bukannya ini judi?). trus gimana dong??
*eh ga nyambung yak?
ini ada dalam agama resmi lho
Juni 20, 2007 pada 9:11 am
cakmoki
Kalo bisa ingin jadi yang seperti quote, integrasi
Juni 20, 2007 pada 4:09 pm
kurtubi
yaa.. mereka yang modern memang pandangannya modern… harus di akui di kita (indo) masih banyak yang local action saja sehingga global act belum dikenal… karenanya bagus sih ada ustadz kampung bilang begini: “act local think global” ternyata ustadz kampung(an) ternyata dia pembaca ulung… santrinya banyak…
eh OOT gak nih…
Juni 21, 2007 pada 3:42 am
Fadli
Teh, ini koq seperti sebuah cuplikan kasus yang digeneralisasi
Juni 21, 2007 pada 8:33 am
Joerig
@suluh,
jangan bingung mas …
@kang kombor, riza,
jaman terus berubah, dan agama diciptakan untuk selalu bisa beradaptasi, tapi sayang, kebanyakan pemeluknya beradaptasi dengan cara yg aneh …
@venus,
berat apanya mbok …
@kang guru,
ayo nge-blog … hehehehehe …
@cak moki,
@kurtubi,
… ngga OOT kok …
sepakat ! …
@fadli,
generalisasi ??? … saya pikir ngga kok mas …
Juni 27, 2007 pada 1:58 am
cK
kadang manusia ketika menghadapi suatu masalah yang berat, mereka melarikan diri dari kenyataan itu sehingga masalah tersebut tidak selesai-selesai.
Juni 27, 2007 pada 2:18 am
cK
agama kadang dijadikan tameng untuk berbuat sesuatu, seperti “atas nama agama maka kami harus me-mati-kan orang ini agar tidak membawa dampak buruk pada masyarakat” atau “atas nama agama, maka saya harus menghancurkan tempat ini”. agama oh agama…sering disalahgunakan…
Juni 27, 2007 pada 6:10 am
jurig
@cK,
betul … fenomena2 itu selalu dilakukan sama para pencari surga …