Seorang pendatang yang berasal dari salah satu negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam menetap di sebuah kota di Eropa. Di kota itu, hampir setiap akhir pekan ia pergi ke sebuah desa di pinggiran kota tersebut untuk tinggal bersama keluarga Eropa yang berbeda agama supaya bisa lebih cepat dalam mempelajari bahasa. Ia seorang yang selalu berusaha untuk taat kepada agamanya, selalu bangun menjelang fajar untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Air disana, karena pengaruh cuaca, sangat dingin. Setelah itu dia pergi ke tempat shalatnya, untuk bersujud, ruku’, bertasbih dan bertahmid kepada Tuhannya.
Dalam keluarga itu terdapat seorang nenek tua yang selalu memperhatikan apa yang dilakukan pendatang ini. Setelah beberapa waktu berlalu, terjadi sebuah percakapan :
Nenek : “was tun Sie? das ist kaum Sonnenlicht dort…”
Pendatang : “Mir wurde befohlen, diese Art des Rituals durch meinen Glauben zu tun.”
Nenek : “Warum warten Sie nicht, bis Sie Ihren Schlaf beenden, bevor Sie diese Tätigkeit tun?”
Pendatang : “Diese Tätigkeit wird vom Herrn nicht akzeptiert, wenn ich es nicht in der Zeit tue, sollte es getan werden.”Si Nenek pun menganggukan kepalanya dan berkomentar, “Ein Glaube, der einen stell zerstören würde”
terjemahan bebas :
Nenek : “Apa yang engkau lakukan ?”
Pendatang : “Agamaku memerintahkanku untuk melakukan ritual ini.”
Nenek : “Mengapa tidak engkau tunda waktunya untuk beberapa saat agar anda bisa lebih menikmati tidurmu ?”
Pendatang : “Tuhanku tidak akan menerima jika aku menangguhkan waktu ritual tersebut dari waktu yang telah ditentukan”Si Nenek pun menganggukan kepalanya dan berkomentar, “sebuah tekad yang mampu menghancurkan besi baja”
Kekuatan seperti itu merupakan hasil kombinasi yang harmonis antara tekad, kekuatan dan daya, yang semuanya berawal dari keyakinan.
:::::::::::::::
ps, sebagian kata-kata dimutilasi dari buku “La Tahzan”, dan telah disesuaikan dengan sebuah kejadian nyata.













14 comments
Comments feed for this article
Juni 11, 2007 pada 5:25 am
kangguru
wah tekad yang meluluhkan karang, mencairkan baja hehehhe
Juni 11, 2007 pada 5:26 am
Kang Kombor
Setuju sekali. Yang perlu didiskusikan, tekad menimbulkan keyakinan atau keyakinan menumbuhkan tekad?
Juni 11, 2007 pada 5:34 am
Bunda_Nanay
‘keyakinan’ memang penting buat pegangan idup
biar ga caman-cemen!!
Juni 11, 2007 pada 6:15 am
mina
tekad yang kuat….
iya, tekad itu harus tetap kuat.
Makasih teh jurig…hiks..
saya juga sedang bersemangat!!!
Juni 11, 2007 pada 6:42 am
chielicious
@Kang kombor : klo aku lebih ke keyakinan menimbulkan tekad
Juni 11, 2007 pada 6:48 am
aLe
tekad sama gak dengan nekad??
Juni 11, 2007 pada 9:19 am
cakmoki
dialog singkat yang sangat mendalam.
Keyakinan yg melandasi tekad dan pujian seorang nenek yg penuh makna
Juni 11, 2007 pada 3:59 pm
peyek
nice posting teh !
Juni 12, 2007 pada 6:23 am
cK
hooo…jempol dah buat teh jurig
Juni 12, 2007 pada 7:12 am
jurig
@kang guru, cak moki, peyek, ck,
@kang kombor & chielicious,
aku sama seperti chielicious, lebih kepada keyakinan menimbulkan tekad …
@ale,
hahahaha … bisa aja
Juni 12, 2007 pada 11:56 am
santribuntet
kalau nenek itu disuruh liat blognya pendatang… kira2 komentarnya sama gak teh?
Juni 12, 2007 pada 12:08 pm
arul
mantab….
Juni 12, 2007 pada 10:09 pm
whitegun
tekad yah jelas aja beda ama nekat, karena tekad benernya lebih beralasan kalau nekat tanpa alasan, pokoknya dilakukan aja, bahkan jika hasilnya ntar pasti menyakiti diripun tetep aja dilakukan, namanya juga tanpa alasan.
Juni 13, 2007 pada 3:20 am
jurig
@santribuntet,
kayanya ngga akan komen apa2 tuh ..
@arul,
quote nenek itu emang mantab …
@whitegun,
seringkali orang berlaku nekat karena merasa bingung dalam usaha mencapai tekad-nya …