“Tak seorang pun ingin berperang, tetapi lebih tak ingin lagi dijajah.”

Penggalan pertama dari kata-kata mutiara ini bernada menyejukkan. tetapi, pada penggalan berikutnya, yang dinyatakan adalah penolakan terhadap hal sebaliknya. Hal yang sarat berkaitan dengan penderitaan dan ketidakberdayaan.

Antara kedamaian dan peperangan. Menelusuri sejarah, tampak jelas bahwa kehidupan di dunia ini memang belum bisa lepas dari dua peristiwa yang saling kontradiktif tersebut.

Peperangan yang satu boleh surut, namun kedamaian di belahan dunia lain sekonyong-konyong malah bisa berubah menjadi peperangan. Begitulah, perang dan damai sepertinya memang sama-sama mengikuti pola fenomena yang biasa mewarnai Bumi yang kita cintai ini. Seperti hujan ke kemarau, siang ke malam, pasang ke surut, gelap ke terang, saling bergantian, dan begitu seterusnya.

Apa yang terjadi pada dasawarsa 1930-40an di Eropa Barat agaknya juga bisa dibilang sebagai sebuah siklus. Setelah beberapa tahun menghirup kedamaian semejak perang dunia 1 usai, wilayah ini pun harus menghadapi kenyataan kembali dirundung peperangan. Peristiwa dimulai setelah Jerman berhasil menguasai satu per satu negara secara cepat.

Jadi walaupun perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain, –di balik teori masyhur ini– kita pun sesungguhnya masih bisa menggugat :

Mengapa banyak negara seakan tak pernah jera terpedaya oleh sejuta alasan di balik peperangan ? … Sejuta alasan yang pada hakikatnya berawal dari ketidakberdayaan manusia dalam mengendalikan karunia Tuhan yang bernama NAFSU.

Jadi, selama kita belum bisa menguasai nafsu tersebut, selama itu pula kita akan selalu bertanya :

Mengapa harus terjadi perang ?

::::::::::