“Tak seorang pun ingin berperang, tetapi lebih tak ingin lagi dijajah.”
Penggalan pertama dari kata-kata mutiara ini bernada menyejukkan. tetapi, pada penggalan berikutnya, yang dinyatakan adalah penolakan terhadap hal sebaliknya. Hal yang sarat berkaitan dengan penderitaan dan ketidakberdayaan.
Antara kedamaian dan peperangan. Menelusuri sejarah, tampak jelas bahwa kehidupan di dunia ini memang belum bisa lepas dari dua peristiwa yang saling kontradiktif tersebut.
Peperangan yang satu boleh surut, namun kedamaian di belahan dunia lain sekonyong-konyong malah bisa berubah menjadi peperangan. Begitulah, perang dan damai sepertinya memang sama-sama mengikuti pola fenomena yang biasa mewarnai Bumi yang kita cintai ini. Seperti hujan ke kemarau, siang ke malam, pasang ke surut, gelap ke terang, saling bergantian, dan begitu seterusnya.
Apa yang terjadi pada dasawarsa 1930-40an di Eropa Barat agaknya juga bisa dibilang sebagai sebuah siklus. Setelah beberapa tahun menghirup kedamaian semejak perang dunia 1 usai, wilayah ini pun harus menghadapi kenyataan kembali dirundung peperangan. Peristiwa dimulai setelah Jerman berhasil menguasai satu per satu negara secara cepat.
Jadi walaupun perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain, –di balik teori masyhur ini– kita pun sesungguhnya masih bisa menggugat :
Mengapa banyak negara seakan tak pernah jera terpedaya oleh sejuta alasan di balik peperangan ? … Sejuta alasan yang pada hakikatnya berawal dari ketidakberdayaan manusia dalam mengendalikan karunia Tuhan yang bernama NAFSU.
Jadi, selama kita belum bisa menguasai nafsu tersebut, selama itu pula kita akan selalu bertanya :
Mengapa harus terjadi perang ?
::::::::::













40 comments
Comments feed for this article
Juni 5, 2007 pada 6:30 am
destiutami
Hmmm, misalnya gini teh. Suatu ketika di suatu zaman *halah* dua orang bersahabat dekat, satu pemikiran, menghadapi “musuh” yg sama. Mereka berperang dgn gagah berani dan cerdik, adu siasat, perang urat syaraf.
Suatu ketika di satu masa *halah!* salah satunya merasa letih, tiba2 merasa tak ada gunanya berperang karna sgala sesuatunya jadi melenceng jauh dari permasalahan awal. Dia tak mau mengikuti “nafsu”nya mencari pembenaran. Ketika itu pula sahabatnya mengatakan ia telah “tumpul”, jadi pengecut.
Kasian ya, berusaha tidak menuruti “nafsu” dibayar dengan kehilangan satu sahabat
Atau si teman tadi tak pantas dibilang sahabat? Tuing! Kepanjangan ya teh?
Juni 5, 2007 pada 6:40 am
jurig
@mbak desty,
Perang selesai apabila salah satu pihak mengalami kekalahan … ngga ada perang yg berakhir dengan damai, karena meskipun perang diakhiri dengan perdamaian, salah satu pihak pasti merasa dirugikan dengan perdamaian tersebut, secara langsung atau tidak langsung.
Dan didalam peperangan, arti persahabatan ngga akan berlaku …
btw, kok tumben ngga pake nick aneh ? … hehehehe
Juni 5, 2007 pada 7:33 am
cinta damai
Perang antas nama negara dengan negara lain, sulit dikatakan ada pemenangnya. Sudut pandang dan parameternya amat subyektif. Bisa jadi negara yg satu berhasil menguasai negara lainnya, namun biaya dan nyawa yg dipertaruhkan teramat banyak.
So,kedamaian patut diperjuangkan dan dinikmati
Juni 5, 2007 pada 7:42 am
jurig
@cak moki,
tapi seringkali kedamaian didapatkan dengan melalui peperangan …
Juni 5, 2007 pada 7:42 am
chielicious
Kayaknya emang udah sifat manusia ..dengan ke-sensitif-an nya..dan gak mau ngalah nya.. =3
no more war please..let’s spread d luv ^ ^..
Juni 5, 2007 pada 7:50 am
cakmoki
Maksudnya perdamaian di meja perundingan ya
Ah iya sih, dalam arti yg luas “kedamaian” harus melalui “peperangan”
Juni 5, 2007 pada 7:53 am
jurig
@chie,
sepakat ! …
@cak moki,
iya … di meja perundingan …
Juni 5, 2007 pada 8:08 am
g u s t | a w a y
Menurut sayah pribadi, di dalam dunia politik menganut prinsip :
Kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan
Tidak ada kawan sejati, tidak ada lawan sejati
Yang ada hanyalah kepentingan sejati
demi sebuah nama yang disebut kekuasaan.
Di situlah titik pangkal dari “perang atau damai”
“Anak buah bisa jadi kolega, kolega bisa jadi anak buah
dalam kurun waktu yang relative singkat”.
Sebenarnya hal-hal tsb telah menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada yang abadi, tidakada kekuasaan yang absolute di muka bumi ini, karena keabadian dan absoluteism cuma milik Gusti Allah.
*halaahhh… gw jadi sok alim deyh!…*
Itulah indahnya politik bagi mereka yang menjalaninya secara paham dan rendah hati. *nyamuukkk… hal2 yg begini malah bikin politisi jadi meleleh & kurang garang…*
Juni 5, 2007 pada 8:25 am
jurig
@gust|away,
memang ngga ada kekuasaan yg absolut di dunia ini, hanya saja manusia ngga akan berhenti mencoba mendapatkan kekuasaan absolut tersebut … berusaha menciptakan “new world order” …
Juni 5, 2007 pada 8:28 am
Mantan Tukang Parkir
Karena perang bisa tercipta kedamaian baru. meski harus menyebabkan tumbangnya manusia
Juni 5, 2007 pada 8:34 am
jurig
@49,
yup … perang menciptakan kedamaian bagi pemenangnya … dan ketika ada yg terusik dengan kedamaian tsb, maka perang akan bermula lagi …
Juni 5, 2007 pada 10:31 am
Kang Kombor
Dunia tidak akan pernah bebas dari peperangan selama makhluk yang namanya manusia masih eksis. Adalah sifat manusia untuk berkuasa atas manusia yang lain. Apabila seseorang mendapatkan halangan untuk menguasai orang lain, maka dia akan melakukan kekerasan kepada orang yang ingin dikuasai. Apabila orang yang akan dikuasai melawan, terjadilah perkelahian. Apabila yang ingin dikuasai tidak melawan, bisa terjadi penaklukkan tanpa perlawanan atau sebaliknya, pembantaian. Dalam skala besar, perkelahian inilah yang disebut dengan perang. Perang adalah perkelahian secara massal dan memakan waktu yang cukup panjang.
Juni 5, 2007 pada 1:24 pm
anas
Di dunia ini akan terus terjadi perang. Walau semua orang telah memperoleh apa yang mereka inginkan. Karena dalam diri kita saja sering terjadi perang ? Ataukah sebaliknya, perang dihati itu yang menyebabkan perang di luar ? Entah ™
Juni 5, 2007 pada 9:55 pm
deKing
Kenapa terjadi perang? Ya karena manusia tidak dapat memenangkan peperangan yang ada dalam diri mereka
Juni 6, 2007 pada 2:54 am
jurig
@kang kombor,
penjelasan yang sangat brilian …
@anas,
“perang di hati”lah yg menyebabkan perang di luar … menurutku sih …
@deKing,
sepakat ! …
Juni 6, 2007 pada 4:01 am
Suluh
Kata Mahadma Gandhi…
Kok bisa ya…?
Saya sih gak ngerti…
Juni 6, 2007 pada 5:04 am
suandana
Manusia gak akan bisa lepas dari perang. Karena manusia ber-evolusi seiring dengan perang itu. Kedamaian yang berlangsung terlalu lama hanya akan membuat manusia menjadi statis dan kehilangan ke-manusia-annya.
Contoh nyata, Indonesia tercinta ini. Karena terlalu lama damai, akhirnya jadi stagnan. Jalan di tempat. Lain dengan Amerika, yang sering banget terlibat perang di berbagai belahan dunia. Mereka terus maju, bahkan hampir menguasai dunia dengan ideologi the new world order-nya. Contoh lain adalah Vietnam, yang belum sembuh benar dari luka-luka akibat perang. Negara-negara di Afrika, yang terus terlibat dalam perang saudara. Orang-orangnya terus berkembang. Saat ini, banyak programmer dari Nigeria yang meng-invasi Indonesia lho. Mereka jago, dan bersedia dibayar, sistem kontrak, 700 ribu sebulan. Bandingkan dengan orang Indonesia yang, lulusan SMA-nya (level pekerja kasar), menuntut dibayar 3,2 juta sebulan, bukan sistem kontrak.
****Eh, bentar, kok kayaknya ngelantur nih***
Oke, kembali ke… perang. Jadi, menurut saya, kita tidak perlu mempertanyakan kenapa terjadi perang. Jalani saja, sebagai agent of change
…..
Juni 6, 2007 pada 5:28 am
Kang Kombor
Suandana
Benarkah?
Juni 6, 2007 pada 7:17 am
Fadli
Perang adalah metabolisme dunia.
Ia menciptakan kesetimbangan baru.
Dan layaknya sebuah reaksi kimia,
tidak semua prosesnya semua orang duga,
namun hasilnya biasanya semua semua orang suka.
Perang hanyalah sebuah pergantian bendera,
Selembar kain yang dipuja dengan darah dan airmata,
Perang adalah sejarah yang diajarkan pada anak-anak kita,
Semenjak ia lepas balita.
Perang dari masa ke masa,
Itulah sejatinya wajah kita,
Walau ketika cermin disodorkan kekita,
Kita sekuat tenaga menolak menatapnya.
Perang adalah api,
Nyala dalam setiap diri,
Yang seketika bisa menyebar ke penjuru negeri
Juni 6, 2007 pada 7:22 am
Fadli
Inilah paradox teraneh yang sering saya dengar
Juni 6, 2007 pada 7:53 am
jurig
@suluh,
dalam peperangan, rasanya ngga mungkin menang tanpa serangan …
@suandana,
manusia sebagai agent of change ? … hmmm …
@kang kombor,
iya ya … apa bener tuh ? …
@fadli,
puisinya bagus…
@fadli,
selalu ada alasan untuk berperang …
Juni 6, 2007 pada 9:01 am
peyek
Setuju teh, jadi kita harus menguasai nafsu!
btw, gimana nih tentang jajah-menjajah?, terlebih tentang penjajahan oleh negeri sendiri
Juni 6, 2007 pada 9:10 am
jurig
@peyek,
penjajahan kan ngga ada bedanya sama perang mas, sama-sama menuruti nafsu … siapapun pelakunya …
Juni 6, 2007 pada 5:42 pm
mbah keman bersabda
perang adalah jalan akhir…saya rasa perang memang perlu di lakukan untuk memperlancar misi2 kita he he….kalau demi menyelamatkan 1 juta orang dan terhalang 1 orang bengal dan dengan berbagai diskusi..dan berbagai cara tidak tercapai kata sepakat…simbah rasa..perang harus di lakukan
Juni 6, 2007 pada 10:22 pm
g u s t | a w a y
sayah sepakad sama si mbah keman… kalo terjadi perang biar gw yg jadi jurinya… *udah siap tereak… “ACTION !” neh…*
kenapa kita harus selalu menguasai nafsu ?????
kadangkala perlu juga secara rutin & berkesinambungan si nafsu menguasai kita… biar hidup lbh indah & berwarna…
*sambil pake celana… maw NGANTOR soalnyah ! HAHAHA…*
Juni 7, 2007 pada 4:41 am
jurig
@mbah keman,
yup … ada berjuta alasan yg bisa digunakan untuk memulai sebuah peperangan …
@gust|away,
berarti nafsu itu bikin hidup lebih hidup ya ? … hmmm … menarik juga …
Juni 7, 2007 pada 9:59 am
kurtubi
@Fadli: “Perang adalah api, Nyala dalam setiap diri”. sayangnya memang tenaga perang itu untuk orang lain bukan untuk hawa nafsu yaa neng…
Gerald Jampolsky, Psikiater AS-Penulis Buku Best Seller Love is Letting Go of Fear pernah berkata: “Memang tatkala Sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain.” (dari koran Sindo)
Juni 8, 2007 pada 3:13 am
suandana
@ yang bertanya soal programmer Nigeria
Yup… Info itu didapatkan dari Pak Budi Rahardjo, yang kebetulan menyampaikan materi tentang “Persimpangan Jalan IT di Indonesia” pada tanggal 5 Juni 2007 jam 09.00 WIB di kampus STEI-ITB, Labtek VIII lt.2.
Dalam kesempatan yang sama, beliau juga menyatakan bahwa beberapa hari sebelumnya ada perusahaan (yang dipimpin oleh P Budi sendiri) yang membutuhkan 10 programmer Java dengan kualifikasi etc, etc. Dari 16 orang yang mendaftar, ada 6 (atau 7 ya?) orang yang hadir untuk wawancara. Dari 6 atau 7 orang itu, ada 1 orang yang memenuhi kualifikasi yang diminta dan 2 orang memiliki dasar kompetensi yang cukup untuk dididik lebih lanjut (3 orang itu diterima). Akhirnya, proyek yang sedang dikerjakan itu akan di-outsource-kan ke Vietnam.
Juni 8, 2007 pada 5:07 am
Juned
Damai bisa dicapai dengan perang. Yaitu kemenangan mutlak untuk satu pihak dan kekalahan telak untuk pihak yang lainnya..
Juni 8, 2007 pada 7:55 am
mina
saya lebih setuju kalau perang itu terjadi karena manusia tak bisa mengendalikan nafsunya. Nafsu kejayaan dan harta dan atau yang berhubungan dengan keyakinan.
Kita berperang untuk mempertahankan diri, karena tak ingin dijajah.Tapi perang sekarang lebih canggih, dan lebih tak manusiawi karena selalu melibatkan rakyat sipil.
stop war!!
Juni 9, 2007 pada 4:23 am
mas agus
anehnya lagi, hampir semua negara di dunia ini punya tentara dan peralatan perang yang cuanggih, padahal semua negara itu menyerukan perdamaian. suatu PARADOKS yang nyata!
Seperti kata Iwan Fals…
Ooo Ooo andai saja dana perang buat diriku
Ooo ooo andai saja negara nggak punya tentara
apakah itu berarti perdamaian dunia itu semu???
katanya mo damai, tapi kok pada nyiapin senjata dan latihan perang sih?
padahal damai itu nggak mahal loh, murah suwer!
damai aja pak yaa…(sambil menunjukkan muka memelas dan nyiapin dhuwit sepuluh ribuan)
Juni 9, 2007 pada 4:33 am
jurig
@kurtubi,
mungkin karena tenaga perang itu berasal dari hawa nafsu mas …
@juned,
yup … salah satu contoh kedamaian yg diperoleh berkat peperangan.
@mina,
dalam perang, seringkali status “sipil” dihilangkan secara paksa.
@mas agus,
semua orang pengen damai … dan seringkali untuk menjaga kedamaian itu harus dengan cara menghilangkan kedamaian orang lain … dan supaya bisa menjaga kedamaian supaya tidak hilang diperlukan alat, yaitu tentara dan peralatannya.
Juni 9, 2007 pada 6:33 am
suandana
Sekarang ada perang digital (entah berita valid atau nggak) antara Rusia melawan Estonia(?). Dunia digital Estonia diobrak-abrik sama orang-orang Rusia…
Kalau perang kayak gini, bagaimana menjelaskannya?
Juni 10, 2007 pada 7:00 am
Aleks
Jangan! Jangan hentikan perang! Nanti hilang semua harta yang telah sekian abad kami kumpulkan dari penjualan beragam senjata! (Jeritan seorang kapitalis)
Juni 11, 2007 pada 6:25 am
jurig
@suandana,
perang, apapun bentuknya tetap aja mempunyai alasan dan tujuan yg “sama” …
@aleks,
perang selalu menjadi bisnis yg sangat menguntungkan …
Juni 12, 2007 pada 7:15 am
suandana
Iya, sih… tapi ada sisi baiknya lho… Orang Estonia sekarang jadi jago dalam hal keamanan sistem dan menyerang sistem lawan. Orang Rusia juga. Tuh, mereka jadi berkembang ‘kan?
Juni 12, 2007 pada 7:29 am
jurig
@suandana,
perang memang menimbulkan dua sisi, sisi baik dan sisi buruk … tergantung sudut pandang mana yg dipake sebagai acuan …
Juni 12, 2007 pada 9:25 am
n0vri
aduh teteh,
postingnya membuat saya inget aksioma lama;
civic pacem para bellum
*mudah-mudahan gak salah spelling*
Juni 14, 2007 pada 5:54 am
Perang dan Damai,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!
[...] , the Ma thing.. , My comics Ma abis baca baca komennya mas Indra di blog Ma dan baca tulisannya teh Jurig,, dan secara ‘kebetulan’ ketemu [...]
Juni 24, 2007 pada 10:17 am
Sam, Mikail, Ali, dan Chanu « Parking Area
[...] luas dan banyak bawahan, ia masih berniat merebut semua milik Ali. Dan kemudian ia pun merencanakan perang besar dalam rangka merebut daerah kekuasaan Ali. Berhasil!, dengan balatentaranya yang kuat dan [...]