
Saya mempunyai sikap yg ambivalen terhadap agama. Suatu ketika saya mempertunjukkan perasaan kesal saya yg tebal. Tapi pada saat yg lain saya juga menunjukkan kepercayaan saya yg besar kepadanya. Kontradiksi itu timbul dari anggapan tentang dua wajah agama. Tak ada satu agama pun yg tak memiliki dua wajah itu, tak terkecuali Islam. Ada dua wajah Islam, yaitu Islam dekaden dan Islam ideologi.
Islam dekaden
Wajah Islam seperti ini memperlihatkan dirinya dalam kejahatan, memelihara dan membiakkan reaksionerisme, inersia dan pembiusan; ia membendung semangat kemerdekaan dan dengan keliru dan palsu membenarkan status-quo. Islam seperti itu memperlihatkan realitas anti-humanistik. Tapi di lain sisi, sejarah juga telah menunjukkan keunggulan sifat humanistik dari wajah Islam. Realitas Islam inilah yg sejati, yaitu yg mendasarkan diri pada kebenaran, cita-cita kemanusiaan dan aspirasi manusia yg lebih tinggi.
Sebagai agama, Islam adalah agama yg pada hakikatnya merupakan kumpulan dari tradisi asli dan kebiasaan masyarakat yg memperlihatkan suatu semangat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Ia berisikan kumpulan kepercayaan nenek moyang, perasaan individual, tata cara, ritual, aturan, kebiasaan dan praktek-praktek dari suatu masyarakat yg telah mapan, berlangsung dari generasi ke generasi. Kebiasaan-kebiasaan itulah yg kemudian dipelihara oleh penguasa politik untuk melegitimasikan kekuasaan.
Islam ideologi
Islam sebagai ideologi adalah suatu kepercayaan yg secara sadar dipilih untuk menjawab persoalan dan kebutuhan suatu masyarakat. Islam seperti itu merupakan tindakan “kemerdekaan berkehendak” yg berdasarkan pada diktum “tiada Tuhan selain allah”. Agama seperti itu menggerakkan rakyat dan bangsa untuk mencapai cit-cita luhur yg telah lama diperjuangkan. Siapa saja yg telah memilih suatu ideologi tentu pertama-tama memikirkan status kelas sosialnya, kondisi politik dan ekonomi masyarakatnya serta lingkungan zamannya. Dia tentu akan mampu mengetahui mengapa ia tidak puas dengan dan bersikap kritis terhadap sistem yg berlaku. Akhirnya ia akan sampai pada suatu perubahan yg fundamental atau perbaikan sistem yg harus dilakukan.Untuk memberi arah dan tujuan kepada kepercayannya, seseorang mesti memilih suatu ideologi. Ideologi dalam hal ini dipilih untuk mengubah dan merevolusikan status-quo.
::::::::::
Jadi, ada dua bentuk agama; Yang pertama yaitu dalam tahapan sejarah, suatu agama adalah agama tradisional yg hanya mencerminkan semangat kolektif dan kebiasaan masyarakat belaka. Agama tradisional ini tak lain hanyalah cermin dari suatu nasionalitas dan semangat kolektif rakyat yg telah ditransformasikan ke dalam simbol, ritus dan tradisi relijius.
Yang kedua, agama dikembangkan dalam masyarakat yg tak ada kelas klerikal tua sebagai penguasa keagamaan yg menjadi penghalang, dan karena itu anggota masyarakat tergerak untuk mengambil prakarsa dan membentuk keputusan kolektif yg setiap orang anggota masyarakatnya merasa berkewajiban dan terlibat untuk mendiskusikan masalah-masalah keagamaan mereka, memberi penilaian terhadap masalah-masalah itu dan kemudian mewujudkannya dalam pelayanan komunitas. Agama disini berperan sebagai ideologi revolusioner yg praktis dan progresif. Islam dalam bentuknya yg paling sublim adalah agama ideologi.
:::::::::: impressum, bersumber kpd wiki dan buku “marxism and other western fallacies” ::::::::::













58 comments
Comments feed for this article
Mei 31, 2007 pada 4:08 am
cakmoki
Hihihi, ada peringatan “mohon dibaca dengan hati-hati”, tersirat “mohon komen dengan hati-hati” juga.
Setiap tinjauan sepertinya menampilkan wajah yg berbeda ya …
Pada akhirnya, masing-masing individu tiba pada pilihannya berdasarkan banyak hal
Mei 31, 2007 pada 4:21 am
9racehime
yepp stuju dgn cakmoki… manusia lahir di anugerahi otak agar mereka dapat berpikir…. dan pada akhirnya menghasilkan suatu pilihan pada hidup…
ttg dua wajah pada agama,,,saya rasa semua hal menampilkan dua wajah,,,tgt bagaimana sudut pandang manusia yg melihatnya..
nice blog!
Mei 31, 2007 pada 5:31 am
riza
bismillah
#Wajah Islam seperti ini memperlihatkan dirinya dalam kejahatan
Bisa ambigu nih. Islam memang musuh kejahatan. Orang yang membunuh bisa dibunuh. Orang yang mencuri, bisa dipotong tangannya. Dunianya orang jahat, pasti ga suka dengan yang kayak gini.
#memelihara dan membiakkan reaksionerisme, inersia dan pembiusan
kalimat yang ga jelas. takut salah klo mo komen :p
#ia membendung semangat kemerdekaan
justru jika muslim sadar akan keislamnnya, dia akan tergugah untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan seperti yang terjadi sekarang atas negara dunia ke-3. ketika indonesia dijajah belanda dulu, terbukti orang2 dengan kesadaran islam yang tinggi banyak yang menjadi pejuang kemerdekaan (imam bonjol, sultan hasanuddin, diponegoro, pahlawan2 aceh, tokoh2 syarekat islam, masyumi, nu, muhammadiyah, dll)
#dengan keliru dan palsu membenarkan status-quo.
justru islam dimusuhi orang2 quraisy karena mengusik status quo mereka
jadi wajah islam dekaden tidak benar
trus masalah ideologi…. ideologi meliputi pemahaman dasar tentang kehidupan yang mempunyai seperangkat solusi untuk mengatur kehidupan manusia. dan islam satu2nya agama yang bisa disebut ideologi.
Mei 31, 2007 pada 5:49 am
jurig
@cak moki,
sip … aku setuju
@9racehime,
setuju … semua hal di semesta ini bisa salah tergantung dari sudut mana si pengamat melihat.
@mbak riza,
wih … komen yg sangat menarik … berarti udah tepat aku masang banner di atas postingan ini
Mei 31, 2007 pada 6:13 am
chielicious
Hmm aku bingung mau komen apa -_-
Mei 31, 2007 pada 10:06 am
Siapa Saya?
Mei 31, 2007 pada 3:18 pm
aku bisu
*speechless*
Mei 31, 2007 pada 4:53 pm
mahendra025
halo Mbak :d
bisa minta contoh konkret bagaimana Islam dekaden dan Islam ideologi?
maksudku konkret kasus gt…
sori ya kalo pertanyaan ku silly…yah otak ku terasa tumpul baca tulisanmu..maklum rada2 telmi aku :d
Mei 31, 2007 pada 5:01 pm
Mr. Fulus
Intinya Islam kultural dan Islam ideologis, begitu yang saya tangkap dari tulisan jurig satu ini. Padahal, dua wajah itu merupakan kesinambungan satu dengan lainnya.
Pertama, Islam muncul harus sebagai ideologis. Ketika ideologi ini dipegang teguh oleh masyarakat Muslim dalam kurun yang lama, ia menjadi Islam kultural (dekaden, kata jurig). Jadi, Islam kultural merupakan hasil dari ideologis tadi. Saya tidak setuju dengan sebutan dekaden, masak hasil perjuangan satu ideologi, yang mengejawantah dalam ritus, sosial, dan individu di dalamnya, lantas disebut bobrok karena dianggap melenceng dari ideologi tsb.
Sebetulnya, dua wajah itu baik, menurut kemampuan masing-masing. Seorang Muslim yang tidak punya kesempatan untuk mengecapi pendidikan, jauh dari informasi dan pengetahuan, lebih baik mengikuti kultur daripada ideologi. Justru bahaya jika dia mengambil jalan ideologi, bisa-bisa jadi bomber yang melukai saudaranya sendiri. Manut (taqlid) kepada seorang alim, dalam masalah syariat (bukan masalah aqidah), itu lebih baik buat dia.
Adapun yang dikaruniai pengetahuan dan inteleginsia yang mumpuni, boleh menempuh jalan ideologi. Jika tidak mau terlibat dalam hiruk pikuk politik, ambil saja jalan sufi. Jalan sufi termasuk ideologis juga, dan ada juga yang politis, tapi ia “jalan sunyi”….
Salam kenal,
Mr. Crab
Ketua RT warga bawah laut “The Bikini Bottom”
Mei 31, 2007 pada 11:20 pm
walahwalah
sebenarnya tradisi- ritus dsb itu muncul sebagai aplikasi praktis dari ideologi, atau ideologi yang kemudian mengejawantah menjadi ritual, tradisi dsb….?
atau bukan keduanya…..? karena banyak kan tadisi2 dalam Islam yang muncul sebagai tindakan praktis manusia dalam mengartikan ideologi yang di yakini…. atau ada juga mungkin tradisi yang kemudian mengkristal menjadi ideologi… ah mbuh lah…! ra paham…!
Juni 1, 2007 pada 5:24 am
Evy
Klo di indonesia masyarakat kita pake yang mana teh? trus di arab sono pake yang mana?
Juni 1, 2007 pada 7:18 am
kurtubi
ideologi apapun terkadang memisahkan kita2… tapi penderitaan dan cita dapat memperastukannya…
Lihatlah diktum: “tiada Tuhan selain Allah” itu bagi Islam bagi agama lagi tentu lain lagi… karena itu sekarang bagaimana islam dapat memberikan wajah ‘rahmatan ilil alamin’ tentu dengan kultur yang mengulur… sebagaimana para pembawa islam di nusantara adalah mereka2 yang kultural, disamping mereka memliki ideologis… tapi tidak terlalu kentara…
Ada lagi sebenarnya teh, ‘islam dadakan’ lahir di kota2… mereka seolah lebih alim dari kalangan ulama, lebih fasih dibanding fukoha, dan lebih galak saat berdakwah… ini masuk apa teh?
Juni 1, 2007 pada 9:53 am
toga
Sangat setuju. Aku yakin, tulisan ini juga dibuat dengan sangat hati-hati, meski tetap saja terasa “letupan-letupan” di jiwa penulisnya. #Sok tau mode on#
Ada sebuah “ayat suci” para filsuf, kebetulan saya setuju. “Kebenaran akan membuat kehidupan lebih baik. Jika dia tidak membuat kehidupan lebih baik, maka dia bukanlah kebenaran.”
Dan dari Islam jenis manapun dia berasal, selama itu membuat kehidupannya dan kehidupan orang lain lebih baik, itulah Islam yang benar.
Mungkin penguasa blog ini boleh mulai melakukan riset, dari jenis Islam yang manakah, yang (relatif) lebih banyak menyumbangkan perbaikan-perbaikan itu, dan sebaliknya, yang justru membuat kemunduran-kemunduran.
ps: Mau di-print? Duh, abdi teh jadi tersanjung teuing…
Andai saya punya modal, saya malah mau minta izin, untuk menerbitkan isi blog ini jadi buku. Mungkin tidak akan jadi best seller, tapi saya yakin, setiap yang membacanya, akan jadi orang yang lebih baik.
Juni 2, 2007 pada 2:45 am
anas
Sama kaya’ mas mahendra nih mbak bisa dijelasin. Maaf soal yang kemaren.
Juni 2, 2007 pada 4:50 am
kangguru
Apapun wajahnya, bagi saya ia menjadi Rahmatan Lil Alamin
Juni 2, 2007 pada 3:57 pm
jurig
@mbak chie,
ngga komen juga ngga apa-apa kok mbak …
@mbak desty,
@mbak gies,
@bu evy, mas mahendra, mas anas,
contoh kongkret ??? … wah … postingan ini kan bukan ttg pandangan semua orang, cuma pandangan satu orang saja …
jadi kalo contoh … hmmm … mungkin nanti berupa postingan … *kalo mood*
@Mr. Fulus,
wah … komen yg mencerahkan … terima kasih mas …
semua hal di dunia ini memang mempunyai dua wajah, tergantung cara melihatnya …
@walah2,
hmmm … menarik juga nih …
@mas kurtubi,
islam dadakan ??? … hmmm … emang ada ya mas ? … tapi kalo dilihat dari kriterianya sih, kayanya udah banyak tuh yg kaya gitu …
@mas toga,
terima kasih atas komen yg mencerahkan …
mengenai riset … hmmmm … kadang memang saya suka mengamati ttg perkembangan dan kemunduran agama kita ini … tapi karena saya bukan seseorang yg mempunyai bakat menulis, yaa jadinya cuma bisa mengendap di otak saja …
diterbitkan jadi buku ??? … *gubrakzzz* …wah … mas, blog saya ini cuma berisi postingan2 biasa,cara penulisan postingan aja kebanyakan ruwet2 …
@kang guru,
sepakat … agama memang Rahmatan Lil Alamin
Juni 2, 2007 pada 4:02 pm
Fadli
@kurtubi
Maaf pak, saya kurang mengerti gitu dengan terminologi Islam dadakan. apakah Islam mengenal semacam kemapanan gitu?
@joerig
Tentang dualisme gelombang partikel itu, mungkin teh jurig bisa tinjau kembali asmaul husna. mungkin darisana juga ia berasal (ini juga perlu kehati-hatian dalam memahami)
regards.
Juni 2, 2007 pada 4:36 pm
jurig
@mas fadli,
kehati-hatian memang mutlak dalam usaha untuk memahami sesuatu …
Juni 2, 2007 pada 10:05 pm
telanjang
lha kalau Islam KTP masuk yg mana ?
Juni 3, 2007 pada 4:39 am
kurtubi
“islam dadakan” bermigrasi di tiap2 diri… dan itu sebenarnya lahir dari sabda Nabi saw: “al imanu yazid wayanqus” iman itu seperti gelombang sinus… naik turun…. maka saat naik, keislamannya mendadak naik dan saat turun jadilah “kafir dadakan” di kota banyak terjadi… dan tidak jauh2 terjadi pada saya. karena saya hidup di kota…
Juni 3, 2007 pada 9:40 am
Geddoe de la Rocha
Sebenarnya setiap agama dan sistem kepercayaan sangat rentan di-deface menuruti suatu corak kebudayaan tertentu. Ketika dihadapkan dengan perubahan, kenyataan bahwa mungkin saja terdapat beberapa pencemaran ini ditentang oleh mereka yang mengikuti paham status quo…
Juni 4, 2007 pada 5:46 am
jurig
@kurtubi,
what a nice point of view …
@geddoe,
yup … dan akan selalu terjadi, no doubt about it …
Juni 4, 2007 pada 6:24 am
Kang Kombor
Sebagian muslim di Indonesia jelas bukan golongan Islam ideologis karena mereka memilih menjadi nasionalis yang berideologi Pancasila. Akan tetapi, ternyata omongan bahwa Pancasila itu ideologi mereka itu hanyalah omong kosong karena selama ini para pancasilais itu tidak pernah bisa melembagakan pancasila dalam jiwanya dan mengejawantahkan sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Satu generasi sudah Pancasila memiliki umur dan selama itu belum bisa melembaga dalam jiwa bangsa. Demikianlah yang memilih Pancasila sebagai ideologi. Sebagian kecil yang memilih Islam sebagai Ideologi dapat diperbandingkan apakah Islam melembaga dalam jiwanya dan mengejawantahkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Terhadap pelembagaan Islam dalam jiwa dan pengejawantahan dalam kehidupan sehari-hari, para nasionalis melihatnya sebagai sebuah radikalisme. Lain kacamata, lain hasil penglihatannya.
Juni 4, 2007 pada 6:31 am
jurig
@kang kombor,
what a nice point of view … like always …
Juni 4, 2007 pada 6:44 am
azzahra
dua wajah islam atau dua wajah pembawa dan penafsir islam ?
Juni 4, 2007 pada 6:47 am
jurig
@azzahra,
pertanyaan yang bagus …
Juni 6, 2007 pada 3:20 am
AL-ILMU
Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
Mo bagi-bagi info tentang eBooks, ada eBooks baru dari http://www.mediamuslim.info, informasinya bisa juga melalui http://www.arsipmoslem.wordpress.com
Juni 7, 2007 pada 4:38 pm
mibu shinobi
hehe untungnya saya tidak terlalu pusing memikirkan permasalahan yang ihwal datangnya tidak berujung pangkal tersebut. mungkin lantaran memang keterbatasan ilmu dan akal, sehingga patut saya syukuri juga.
>>>>>>>>>>>>>
Juni 8, 2007 pada 8:52 am
danalingga
Agama itu sebenarnya hanya punya satu wajah saja, sebab agama adalah sebuah alat yang netral. Hanya saja ketika di gunakan oleh pemakainya maka sepertinya agama mempunyai dua sisi, seperti halnya pisau, jika bisa di pakai untuk kebaikan atau bisa juga untuk kejahatan.
Juni 8, 2007 pada 9:59 am
Jauhari
Komen Dulu Baru baca
Juni 13, 2007 pada 5:23 am
Saleh Aziz
Poligami atas nama Alloh dan nafsu, membuat para kyai, ulama dan tokoh muslim lainnya berulah nakal dan cabul. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?
Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.
Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.
Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?
Juni 15, 2007 pada 3:22 am
mibu shinobi
sebenarnya bukan hanya orang Jawa saja. saya kurang setuju dengan adanya pemikiran Jawa sentris, karena nusantara meliputi sabang sampai merauke. alangkah baiknya jika pemikiran diarahkan “untuk segenap bangsa Indonesia bersama-sama memakmurkan negara tercinta ini”.
permasalahan yang terkait di atas, bukan berarti korelasi yang tepat dalam menggambarkan suatu agama (dalam hal ini yang menjadi obyeknya adalah Islam) dan dampaknya terhadap masyarakat Jawa. karena bagaimanapun, pluralisme akan tetap terlaksana.
tentu saja, bukan hal yang bijak bila kita meninjau dari satu segi arah saja, karena saya berprinsip semua permasalahan tersebut bukan dan tidak berasal dari agama, melainkan dari pemeluknya, atau dengan kata lain manusia yang menyandang titel “umat beragama” tersebut. tidak relevan bila kita sangkut pautkan dengan agama yang notabene semuanya mengajarkan tentang “hakikat rahmah bagi alam semesta”
tidak ada yang salah dengan segala praktik keagamaan, yang tentu selama sesuai dengan tuntunan, prosedural yang berlaku. karena bagaimanapun, bila kita hanya menunjuk pada satu titik permasalahan maka akan terjadi dikotomi.
memang, kewajaran akan ketidakpuasan dengan hal yang berbau agama bukanlah barang baru. konon saja, permasalahan indulgensia, tapa brata, bumi sentris, reinaissance, sampai poligami yang sedang dibahas ini sudah pasti menjadi topik yang hangat lebih dari dua dekade yang lalu. namun titik temunya justru adalah: kembali pada keyakinan masing-masing.
jadi harap maklum saja. semua akan kembali pada diri kita masing-masing.
cara memakmurkan negara? tentu saja dengan action yang real. yang mampu segera bertindak. karena hal itu bagaimanapun tanpa adanya yang mengawali untuk perbaikan, tidak akan pernah terjadi perbaikan.
siapa yang menanam, dia yang akan memanen. siapa yang memulai, maka yang lain akan mengikuti.
terima kasih ^^
Juni 15, 2007 pada 5:39 am
joerig
@saleh aziz,
kalau menurut buku-buku sejarah, memang orang jawa lah yg tercatat mampu menyatukan nusantara dengan sistem monarkinya … *OOT dikit … kalo menurut wiki sih yg pertama menyatukan nusantara bahkan lebih luas dari majapahit itu suku yg lain … tapi itu kan dulu …* jadi kalo dilihat dari segi jaman, pertanyaannya mungkinharus dirubah menjadi, “Bagaimana caranya supaya orang INDONESIA bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini ?”
@mibu shinobi,
saya sepakat, bahwa pemikiran yg berkaitan dengan nusantara harus dijauhkan dari sentrisme sebuah ras … *karena secara ke-suku-an saya bukan suku jawa* …
dan memang suatu masalah bisa disikapi lebih bijak jika dipandang dari berbagai sudut pandang … termasuk masalah agama …
Juli 20, 2007 pada 4:16 am
Zorion Annas
KRISIS BESAR MELANDA NEGARA IRAN
Iran adalah salah satu negara terkaya di dunia dilihat dari tambang minyak.
Tapi sejak para mollah memerintah di negara ini dengan sistim agama yang mencampuri setiap segi kehidupan orang Iran, maka sekarang negara persia ini mengalami krisis besar. Kehidudapan di Iran saat ini sangat susah. Jauh lebih susah dari pada kehidupan waktu di Rusia komunis (USSR). Anak-anak muda sekarang berontak. Jangan-jangan negara ini menjadi seperti Afganistan.
Gara-gara agama, suatu negara bisa hancur.
Sayang sekali!
Juli 20, 2007 pada 4:17 am
Zorion Annas
PERLAKUAN KASAR DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN
Bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”
Ini jelas sekali bahwa, di lingkungan muslim, wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.
Juli 20, 2007 pada 4:18 am
Zorion Annas
POLIGAMI = PELECEHAN WANITA
Dalam al-Qur’an, ada ayat yang secara eksplisit membolehkan poligami: dua, tiga atau empat orang isteri. Ayat inilah yang selalu menjadi senjata pendukung poligami untuk membenarkannya menurut optik Islam.
Potongan pertama “ayat poligami” di Qur’an, seakan menyusun tangga jumlah keutamaan pernikahan. Di mulai dari dua, tiga, lantas empat. Yang paling reflek ditangkap logika biasa: cobalah dua dulu; kalau masih berminat, bisa tiga; jika masih ada kemauan dan kemampuan, boleh nambah menjadi genap empat. Bahkan, sementara umat Islam, ada yang sampai hati menjumlahkan bilangan-bilangan yang disebut Tuhan di al-Quran tersebut. Dua plus tiga, plus empat, sehingga menghasilkan jumlah yang fantastis dan menguntungkan kecenderungan pernikahan seseorang. Perbedanaan pemahaman ini tidak lepas dari permasalah hermeneutika (cara tafsir) atas ayat al-Qur’an. Masalahnya adalah, apakah penyebutan dua, tiga, empat, lantas kemudian satu, menunjukkan yang disebut pertama lebih utama (afdlal) dari yang kemudian? Kalau itu dilihat sebagai urutan keutamaan, ya poligami menjadi pilihan.
Yang sering terlupakan adalah kelanjutan “ayat poligami” ini. Justru, yang terlupakan inilah sebetulnya ruh ayat itu. Yaitu: masalah keadilan. Keadilan atas siapa? Tentu yang dimadu (perempuan). Dari sudut pandang siapa keadilan itu? Ya, jelas sudut pandang perempuan. Sebab, yang menjadi objek poligami adalah perempuan; yang makan hati dan tahu takaran keadilan poligomos adalah perempuan itu sendiri, utamanya yang dimadu (yang terlecehkan).
Juli 21, 2007 pada 12:30 pm
B Ali
Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.
Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.
Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense dan absurde seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.
Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.
Agustus 10, 2007 pada 7:53 pm
hatinurani21
Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/
MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?
Pengantar
Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)
Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
- Bs. Belanda selama 300 tahunan
- Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
- Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
- Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
- Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
- Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
- Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
- Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
- Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
- Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
- Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
- Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
- Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
- Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
- Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
- Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
- Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
- Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).
- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
- Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!
- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
- Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
- Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
- Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
- Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
- Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
- Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
- Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
- Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.
Penutup
Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.
Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.
Agustus 13, 2007 pada 7:12 am
Joerig™
@Zorion Anas,
… bukan agama yg menghancurkan Iran, karena dari dulu Iran sampe sekarang kan “negara agama” … mungkin ideologi “baru” yg lebih tepat disebut sebagai biang kemunduran Iran …
mungkin hal yg anda utarakan hanya anda pandang dari satu sudut saja …
@Zorion Anas lagi,
mungkin kalo anda membaca seluruh surat an-Nisa, anda pasti meralat pendapat anda …
@Zorion Anas juga,
poligami … topik yg akan terus menarik …
memang poligami dalam Islam sudah mempunyai “dasar hukum”, tapi juga poligami mempunyai syarat-syarat yg bisa dikatakan berat –secara moral– , dan mungkin anda melihat poligami dari sudut pandang sejarah bangsa arab, sehingga bisa diketahui asal angka 4 tsb …
:::::::::::::
mutilasi ayat tidak menjamin kebenaran sebuah hukum … karena ayat2 dalam Al-Qur’an adalah satu kesatuan yg utuh, dan saling berkaitan satu sama lain.
:::::::::::::
@hatunurani21,
sebuah pemaparan yg luar biasa, mungkin saya akan menanggapi komen anda ini berupa artikel …
Agustus 19, 2007 pada 7:03 pm
sejati
Artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/
AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).
Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.
Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:
“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)
Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.
Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).
Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?
Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).
Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.
Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.
Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?
Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.
Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.
Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.
Masalah wahyu
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.
Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.
Kedua, kontradiksi-kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir
Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.
Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.
Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?
Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.
Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.
Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.
Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.
Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.
(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).
Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.
Agustus 22, 2007 pada 9:21 pm
Saleh Aziz
Saya menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan hati saya. Ini website-nya: http://agamarasional234.blogsource.com/
Dalam artikel tsb, di bawah ini adalah salah satu kontradiksi yang dipaparkan:
“Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).”
Agustus 23, 2007 pada 1:36 pm
pinkwhiteroses
haluu……
November 1, 2007 pada 11:42 am
Aku malu menjadi moeslim
Kenapa umat moeslim menjadi begini? Saya tidak mau anak-anak saya menjadi begini gara-gara ajaran Islam. Bacalah artikel ini: http://ob.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=221
November 27, 2007 pada 1:06 am
islaMModern
Islam modern adalah Islam yang cinta damai.
Apakah anda cinta damai juga ?
Desember 12, 2007 pada 11:45 am
Sharipuddin
Bila anda sebut saja
ISLAM DEKADEN, ISLAM IDEOLOGI
lantas aku teringat ISLAM HADHARI
ini membuat aku membanding.
Seolah-olah ISLAM yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah satu benda lama yang perlu diketepikan dan ISLAM dengan label baru di belakang adalah sesuatu yang progresif (konon)
Desember 12, 2007 pada 11:51 am
Sharipuddin
Zorion Anas
Kenyataan anda
KRISIS BESAR MELANDA NEGARA IRAN
Iran adalah salah satu negara terkaya di dunia dilihat dari tambang minyak.
Tapi sejak para mollah memerintah di negara ini dengan sistim agama yang mencampuri setiap segi kehidupan orang Iran, maka sekarang negara persia ini mengalami krisis besar. Kehidudapan di Iran saat ini sangat susah. Jauh lebih susah dari pada kehidupan waktu di Rusia komunis (USSR). Anak-anak muda sekarang berontak. Jangan-jangan negara ini menjadi seperti Afganistan.
Gara-gara agama, suatu negara bisa hancur.
Sayang sekali!
Jawabnya
Tenaga nuklear di geruni Amerika kok negara susah, betul kah gitu atau anda main serkap jarang saja dong. Asal label Muslimnya kuat anda benci
Dari banyak komentar anda menunjukkan asal labelnya Islam anda seolah-olah membencinya.
Kalo anda ada anak dan masih belum kawin, kasihan dong, lelaki sudah kurang
Januari 7, 2008 pada 7:00 pm
Solihin
Assalaamu’alaikum.
Saya sangat setuju dengan poligami.
Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.
Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.
Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Rasulullah?
Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.
Januari 10, 2008 pada 12:37 pm
Ridwan Azari
Saat ini, Indonesia mengalami krisis multi-dimensi. Sedangkan sebagian besar dari krisis ini disebabkan oleh agama.
Agama Islam adalah agama dari rumpun Abrahamik seperti halnya Kristen dan Yahudi. Ketiga agama ini menanamkan kebencian, permusuhan dan kekerasan sepanjang massa.
Penduduk Indonesia adalah 60% berada di Jawa. Jadi kekuatan ada di Jawa. Kalau orang jawa segera meninggalkan agama rumpun abrahamik dan kembali kepada Kepercayaan asli, maka sebagian besar dari krisis ini akan hilang dan Indonesia akan seketika sembuh dari krisis ini.
Indonesia adalah negara besar, kaya dengan sumber alam. Indonesia tidak berhak mempunyai nasib yang sepuruk ini.
Januari 11, 2008 pada 6:57 pm
Ramli Rais
Assalaamu’alaikum.
Saya menemukan posting yang sangat menarik tentang: Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam. Ini link-nya: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1312
Selamat membaca dan terima kasih,
Wassalam
Maret 24, 2008 pada 9:23 pm
resist
Quran dulu dibuat waktu jaman perang. Ayat-ayatnya hanya berlaku untuk situasi saat itu.
Cilakanya, orang-orang yang membuat ayat-ayat Quran itu tidak memikirkan bahwa kehidupan manusia dan tata sosial masyarakat selalu berubah.
Hasilnya, disamping ayat-ayat Quran mengandung banyak kesalahan tata bahasa, ayat-ayat ini makin tidak relevan untuk kehidupan umat.
Jadi musuh utama bagi Quran adalah WAKTU.
Maret 31, 2008 pada 11:56 am
Zulfiki Bin Taha
Mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat nasrani adalah haram.
Adapun hal-hal lainnya yang haram bagi umat muslim adalah:
• makan mie instant => karena temuan oran Cina
• memakai pakaian tekstil => karena ditemukan oleh Kristiani
• makan nasi => karena berasal dari Cina
• memakai kendaraan bermotor => karena temuan bangsa Kristiani
• mengikuti ajaran Wali Songo => karena semuanya orang Cina
• menggunakan listrik => karena temuan bangsa Kristiani
• menggunakan komputer => karena temuan bangsa Kristiani
• menggunakan internet => karena temuan bangsa Kristiani
• kiblat mengarah ke Mekah => karena itu penyembahan berhala
• naik haji => karena itu penyembahan berhala
• menganggap buku al-qur’an suci => karena itu penyembahan berhala
• mengelilingi ka’bah 7 kali => karena itu penyembahan berhala
• sholat 5 kali sehari => karena ini penyembahan berhala
• mempercayai surga, neraka & akhirat => semuanya ini adalah berhala
Bagaimana dengan saudara-saudara kita umat muslim yang membela Islam dengan merusak tempat-tempat ibadah umat lain, tapi mereka memakai pakaian tekstil dan mengendarai kendaraan bermotor? Sedangkan tekstil dan kendaraan bermotor adalah temuan dan teknologi bangsa Nasrani.
Bagaimana dengan saudara-saudara kita umat muslim yang membela Islam dengan meledakkan bom untuk membunuh umat lain? Sedangkan bom itu adalah temuan orang Yahudi.
April 7, 2008 pada 11:05 am
Zulfiki Bin Taha
Memang satu-satunya agama yang dibela oleh pemerintah adalah agama Islam.
Sikap pemerintah seperti ini sangat berbahaya.
Resikonya adalah:
Bagi umat Islam yang anti pemerintah, hal ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menentang pemerintah. Umat muslim tidak usah menunggu pemilihan umum untuk menentang pemerintah yang sekarang.
Kalau umat muslim mau menentang pemerintah yang sekarang, cukup dengan meinggalkan agama Islam untuk memeluk agama lain selain Islam. Meninggalkan agama Islam berarti anti pemerintah yang sekarang. Reaksi ini lebih ampuh dari pada menyoblos di pemilu. Hasil penghitungan suara di pemilihan umum bisa direkayasa dan dicurangi. Tetapi meninggalkan agama Islam ke agama lain adalah reaksi yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Dan pemerintah nanti hanya bisa gigit jari.
Inilah resiko yang dihadapi oleh pemerintah yang kerjanya hanya membela agama Islam.
April 9, 2008 pada 10:27 am
Khairun Abubaker
Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.
Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.
Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.
Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.
Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.
Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.
Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.
April 25, 2008 pada 7:13 pm
Khaled Elkasi
MUSUH ISLAM ADALAH ALQUR’AN
Kita mengetahui bahwa tujuan memaluk suatu agama (agama apapun) adalah untuk membuat umatnya menjadi teguh batiniah. Kuat tak tergoncangkan.
Sedangkan Alqur’an merupakan musuh yang paling berbahaya terhadap agama Islam. Alqur’an membelenggu umat muslim supaya menjadi lemah, mudah diadu-domba dan mudah dihasut.
Buktinya, umat muslim saat ini sangat lemah. Melihat kartoon Nabi Muhammad saja sudah bingung kesurupan. Melihat kepercayaan-kepercayaan lain juga umat muslim menjadi sakit. Umat muslim mudah diadu-domba sehingga mengeluarkan fatwa-fatwa bringas, merusak tempat-tempat ibadah umat yang beragama lain, sweeping, dan melakukan kekerasan-kekerasan ala jaman kegelapan.
Semuanya itu adalah hasil dari penghayatan Alqur’an. Alqur’an sedang melemahkan dan merusak jiwa dan prilaku umat muslim.
Jadi musuh utama bagi Islam adalah Alqur’an.
Juni 2, 2008 pada 6:47 am
Rustan Zali
LAGI-LAGI OKNUM POLISI YANG DI FPI MELAKUKAN KEBRINGASAN
Wah ! Lagi terjadi kekerasan a la jaman kegelapan.
Seharusnya bukan FPI yang dilarang di Indonesia, malah Islam seharusnya dilarang di Nusantara karena idiologi ini hanya menyulut kebencian dan membuat keonaran, kerusuhan, anarki yang membuat masyarakat Indonesia resah.
September 10, 2008 pada 8:27 pm
hamid
Poligami itu dihalalkan oleh Alquran.
Membaca Playboy dan nonton film porno pun dihalalkan oleh FPI.
Habieb Rizieq Shihab (pemimpin FPI) ternyata senang membaca majalah Playboy dan nonton VCD porno !
Bagaimana dengan orang-orang MUI ??? Pastilah mereka malah lebih parah lagi dari Rizieq Shihab yang moralnya bobrok ini.
Beginilah ulah dari orang-orang yang memekikkan nama Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang dangkal, artifisial, sekedar formalitas, dan yang pada dasarnya membuat umatnya bermoral bobrok.
September 18, 2008 pada 7:43 am
hamid
Dulu, Islam meyakinkan bahwa bumi ini datar seperti tikar. Tapi sekarang ternyata ditemukan bahwa bumi ini bulat.
Dulu, Islam melarang wanita pergi sendiri tanpa laki-laki. Tapi sekarang, aturan itu sudah basi.
Dengan ditemukan sistim DNA, maka istri boleh ber-poliandri kalau aturan Islam benar-benar diterapkan.
Agama seharusnya kebenaran mutlak dari Tuhan. Tidak boleh berubah-ubah karena sudah ditentukan oleh Tuhan. Tetapi kenyataannya, semua aturan agama (Islam, dsb) terpaksa menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Hal ini membuktikan bahwa agama Islam dan Alquran dirancang sedemikian rupa oleh orang-orang yang licik waktu jaman Jahiliyah.
Sekarang ini, umat muslim berupaya keras untuk membodohkan diri supaya bisa menerima dan mempercayai bahwa Islam adalah wahyu Tuhan, dan berusaha membodohkan diri bahwa Alquran adalah sebuah wahyu yang dulu jatuh dari langit.
Hal yang absurd ini sengaja dipercaya secara artifisial dengan membuang nalar. Umat muslim mengklaim kobodohan demi kepercayaan bahwa Islam adalah wahyu. Tidak mengherankan bahwa sebagian besar umat muslim di dunia adalah bodoh. Kebodohan ini sejajar dengan kemiskinan.
Karena umat muslim dijerat oleh kemiskinan, maka diterapkanlah Zakat. Zakat ini malah mendorong umat muslim untuk menjadi lebih malas, lebih bodoh dan lebih miskin. Zakat hanya berguna bagi orang-orang yang pamer dan mau mendapatkan kekuasaan. Tokoh-tokoh muslim sengaja memelihara kebodohan, ketergantungan dan kemiskinan di kalangan umat muslim supaya mudah dibelenggu, mudah diadu-domba dan mudah dicuci otaknya. Tragedi di Pasuruan mencerminkan bahwa sistim zakat memberlakukan fakir-miskin muslim lebih rendah dari binatang yang kelaparan.
April 4, 2009 pada 8:55 am
Anwar N.
BERAPAKAH TINGGI BADAN NABI MUHAMMAD SAW ?
Buat teman-teman yang ahli matematika. Saya perlu bantuan dari kalian.
Saya mau mengetahui tinggi badan Rossul SAW waktu berumur 54 tahun (waktu beliau menikahi Aysiah yang berumur 9 tahun). Rossul SAW lahir sekitar 1500 tahun yang lalu.
Kita mengetahui bahwa semakin tahun, tubuh manusia semakin tinggi. Seorang anak yang menginjak umur dewasa selalu lebih tinggi tubuhnya dari ayahnya sekitar 5 sampai 10 cm. Sedangkan, perbedaan umur antara anak dan ayah adalah sekitar 25 – 30 tahun.
Ambillah sebuah patokan yang minimal bahwa seorang anak selalu lebih tinggi dari ayahnya paling tidak 2 cm. Sedangkan perbedaan umur antara anak dan ayah, kita ambil patokan 30 tahun.
Saat ini: Tinggi badan orang dewasa di daerah Timur Tengah (Arab), kita ambil patokan 180 cm.
Kalau dilihat dari patokan-patokan di atas, berarti tubuh manusia bertambah tinggi minimal 2 cm setiap 30 tahun.
Sedangkan kita mengetahui bahwa Rossul SAW lahir 1500 tahun yang lalu.
Selisih ukuran badan Rossul SAW adalah (1500 dibagi 30 ), kemudian hasilnya dikalikan 2 cm. Hasilnya adalah 100 cm (lebih pendek dari sekarang).
Kalau rata-rata orang dewasa di Timur Tengah mempunyai tubuh setinggi 180 cm, maka tinggi tubuh Rossul SAW pada saat itu adalah (180 cm dikurangi 100 cm) = 80 cm.
Jadi Rossul SAW mempunyai tubuh setinggi 80 cm.
Berarti kita yakin bahwa, pada saat itu (1500 tahun yang lalu), Rossul Nabi Muhammad SAW berukuran badan sangat pendek, yaitu sekitar 80 cm.