Ke mana arah hidup kita? … Adalah sebuah pertanyaan besar yang harus kita jawab sebelum kita melakukan sebuah aktifitas agar terarah dan bertujuan jelas, yaitu harus ke mana aktifitas hidup ini akan
diarahkan. Akankah jawaban kita adalah harta, tahta, dan jabatan ? Atau justru kita belum sempat untuk memikirkan apa sebenarnya yang akan kita cari dalam hidup ini.
Sungguh sangat sia-sia jika kita hidup namun tidak jelas ke mana kehidupan kita ini akan diarahkan. Sekali lagi, mari kita dudukkan permasalahan ini dengan baik dan kita fahami bersama fakta yang ada dalam kehidupan kita kesehariannya.
Hidup, ada Awal dan ada Akhir
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap hidup pasti akan mati, dan hal ini tidak bisa ditolak, apalagi ditunda. Kehidupan ini ada akhirnya sebagaimana ia memiliki permulaan. Berapa banyak orang kita cintai telah mendahului kita, sedang kita pasti akan menyusul mereka.
Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut : 57,
“Tiap-tiap yang berisi akan merasakan mati, kemudian kepada Kami kamu dikembalikan.”
Namun, akankah kita menjadi orang-orang yang digambarkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Jaatsiyah : 24,
“Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup serta tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
Kematian Tidak Pernah Kompromi
Siapapun ia, akan didatangi oleh yang namanya kematian. Kematian akan datang tanpa kenal kompromi. Tidak peduli kita sudah siap atau belum sama sekali. Kematian bisa datang saat kita sedang melaksanakan ibadah atau sedang bermaksiat. Sungguh, ia akan menjumpai kita semua di mana saja dan kapan saja
dia mau. Dan itu berarti kita akan meninggalkan apa saja yang pernah kita miliki dan kita cintai.
Allah berfirman, “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS.Yunus : 49).
Oleh karena itulah kita harus bersiap-siap setiap saat sebelum ia (kematian) benar-benar datang
menjemput kita dan kita tidak bisa menolaknya ataupun menundanya.
Datangnya Hari Pembalasan
Dan dibalik itu semua, ketahuilah bahwa apa yang kita kerjakan, baik itu ibadah atau kemaksiatan dan dosa yang kita perbuat, semuanya tercatat dan tidak luput serta terlupakan olehNya. Sekecil dan seberat apapun semuanya itu, niscaya akan dibalas di kemudian hari nanti.
Mereka yang semasa hidupnya senantiasa menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, akan hidup pada tempat yang telah dijanjikan oleh Allah SWT, yaitu Surga. Sedangkan mereka yang
semasa hidupnya selalu membangkang dan selalu bermaksiat serta membuat kerusakan di tengah masyarakat, maka merekalah yang mendapat siksa Neraka. Sungguh, Mahaadil Allah SWT yang telah
menyediakan semua itu.
Allah berfirman dalam Surat Ali Imran :185,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Karenanya, mari kita kembali kepada rumusan hidup, “Apa sebenarnya yang kita cari dalam kehidupan ini?” … Jika yang kita cari adalah amaliah dalam bingkai keimanan untuk mendapat ridhaNya, maka akan selalu mengingat firman Allah,
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal yang diyakini.” (QS. Al-Hijr : 99).
:::::::::: di-email oleh nisma[at]****[dot]com ::::::::::













19 comments
Comments feed for this article
Mei 23, 2007 pada 5:34 am
bunda_nanay
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
SIAP GA YAH??? *TAKUT SAMPE MERINDING*
>>>>>>>>>>>
harus siap dong …
Mei 23, 2007 pada 5:34 am
cK
Apabila kita mati, itulah awal ‘hidup’ kita yang sebenernya. Karena hidup yang abadi itu adalah hidup di ‘alam sana’.
PERTAMAX!!
>>>>>>>>>>>>>>
setoedjoe …
Mei 23, 2007 pada 5:34 am
cK
uah…KEDUAX dan KETIGAX deh
>>>>>>>>>>>
eits … dilarang pake x …
Mei 23, 2007 pada 5:43 am
riza
“Apa sebenarnya yang kita cari dalam kehidupan ini?”
. yah memang pikiran kudu sering direfresh dan diisi lagi dengan kenyataan bahwa… * yang berawal pasti juga berakhir *
pertanyaan serupa dilempar dari seorang kawan kemaren karena pandangan hidupku yang sempat error dan sedang perlu dibenahi. gara2 aq sedang emosi sih
>>>>>>>>>>>>>>.
* yang berawal pasti juga berakhir * … hmm … quote yg harus selalu diinget …
Mei 23, 2007 pada 6:20 am
Evy
Yuk arisan kematian yuuuk pasti ga ada ygmau dapet duluan, bilangnya belum siap, lha kapan siapnyaaaa? tiba2 jedut..nyawa ditarik… mudah2an khusnul khatimah, amien
>>>>>>>>>>>
Amien …
Mei 23, 2007 pada 7:21 am
cakmoki
Jika yang kita cari adalah amaliah dalam bingkai keimanan untuk mendapat ridhaNya, …
Kayaknya ada tatacaranya ya Teh?
>>>>>>>>>>>>
tatacaranya kan udah diatur …
Mei 23, 2007 pada 7:51 am
g u s t | a w a y
… tidak lagi berhasrat untuk hidup,
juga tidak lagi takut mati.
tidak mengharapkan apa-apa,
juga tidak takut apa-apa…
– by : Nawal El-Saadawi -
Mei 23, 2007 pada 8:17 am
Dianti
yup
kita semua insya ALlah dah paham mo dikemanain hidup.
Tapi di tengah jalan, weleh… keseringan kita belok and kesandung gara2 ulah qta sendiri daripada lurus mulus.
bener tuh… kudu sering di refresh.
>>>>>>>>>>>>>
ayo “refresh” sesering mungkin …
Mei 23, 2007 pada 8:55 am
Muslim « 4w3z
[...] Ke mana arah hidup kita ? … — 8 comments [...]
Mei 23, 2007 pada 9:20 am
chielicious
Aku udah sampai taha bosen idup nie teh..gimana donk? sempet mikir klo aku udah siap mati.. tapi kehidupan sesudah kematian itu babak baru dair kehidupan ku dan aku udah pasti gak siap ngejalaninnya ..
hahhh..coba Tuhan gak ngitung2 dosa2 manusia ..heheh
>>>>>>>>>>
sometimes people say : “life is hurts me more than death” …
Mei 23, 2007 pada 9:22 am
chielicious
^duh yang namanya ngetik koq gak pernah beres sieh ..-geleng2 mawut-
>>>>>>>>>>
???
Mei 23, 2007 pada 10:16 am
Kang Kombor
Hmm…
Mari kita bekerja keras untuk dunia kita seakan-akan kita akan hidup selamanya dan beramal ibadah sebanyak-banyaknya seakan-akan kita akan mati besok pagi.
Bukan begitu Ibu-ibu?
>>>>>>>>>>
Mei 23, 2007 pada 4:32 pm
peyek
gimana jika Allah ridha kita berada di neraka?
mudah-mudahan tidak demikian ya teh, semoga! amien!
>>>>>>>>>>
Amien …
tapi kalo kita disuruh Tuhan masuk neraka … yaaa … apa boleh buat …
Mei 24, 2007 pada 5:54 am
chielicious~
[...] pertanyaan Joerig soal hidup ,, aku gak tau apa yang aku [...]
Mei 24, 2007 pada 7:00 pm
Dimas
Artikelnya alhamdulillah bagus.
Untuk itulah seorang guru berkata “You have to ‘DIE’ before you DIE”.
>>>>>>>>>>>>>
what a great quote …
Mei 25, 2007 pada 4:37 pm
ris
menurut saya yang paling penting adalah persoalan perut (weteng ngelih pikiran ngalih), jika perut kosong, berfikir pun kurang maksimal, dengan cara apapun dilakukan demi perut dan masalah yang lainnya adalah masalah yang ke 2,3,4 dan seterusnya he he he……
>>>>>>>>>>>>>..
hmm … ini berarti makan untuk hidup … atau malah hidup untuk makan ???? …
Mei 26, 2007 pada 10:33 am
ris
makan untuk hidup.
manusia akan lebih bergairah dan punya rencana ketika perut terisi.
>>>>>>>>>>>>>>>>
hmmm … emang gitu ya ?
Mei 27, 2007 pada 3:34 am
Rizma Adlia
Manusia juga akan ngantuk ketika perut terisi,,
iseng,,!!
>>>>>>>>>>
hehehe … betul itu … sumpah ! …
Mei 27, 2007 pada 11:39 pm
aisalwa
kemana arah hidup kita ?
cinta lahir untuk mati
salwa lahir juga untuk mati
jurig lahir untuk mati juga
kita semua lahir adalah untuk mati
dari kematian datang kelahiran lagi
ini nih yang harus dipikirkan, hanya ada dua pilihan
Sorga ………….ataukah…………….NERAKA ???????
>>>>>>>>>>>>>>>>..
yg aku tahu sih, aku diberi kehidupan oleh Tuhan untuk dinikmati sesuai dengan peraturan-Nya …
knp harus mikir surga atau neraka … kita beribadah kan bukan krn takut neraka …