
Bagi TNI AL dan segenap jajaran korp Marinir, kemampuan untuk menjaga wilayah RI yang terdiri dari ribuan pulau, besar dan kecil, tak bisa ditawar-tawar lagi. Siapa lagi coba yg harus menjaga, peduli dan bertanggung jawab jika satu, dua atau beberapa diantaranya diam-diam disusupi dan diduduki oleh kekuatan asing yang ingin mengganggu NKRI.Kita harus bersyukur bisa mendiami negeri yang sedemikian luas dan kaya akan hasil alam. Pun harus bersyukur memeiliki angkatan laut yang masih memegang taguh sikap dan tugas untuk senantiasa menjaganya. Sebuah tugas mulia yang saat ini mestinya menjadi salah satu bahan introspeksi bagi kita semua, karena rasa-rasanya kok – setelah kemerdekaan bangsa ini menginjak yg ke 61 – kepedulian untuk ikut peduli dan menjaga seluruh rahmat dan karunia tersebut malah kian memudar.
Intropeksi tak terkecuali juga harus dilakukan para anak bangsa yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan yang terhormat dan menjadi eksekutif di tingkat pemerintahan. Hal ini menjadi begitu penting karena, seperti yg didengung-dengungkan pimpinan TNI, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sarana dan peralatan pertahanan yg memadai untuk melindungi seluruh aset yg amat berharga tersebut. Hanya pejabat publik lah yg memiliki kewenangan dan tanggung jawab melengkapi saran yg amat diperlukan itu.
“Kapal perang kita sudah usang dan satu peluru kendali pun kita tidak punya” begitu kata KASAL Laksamana B.K. Sondakh seusai rapat pimipinan TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Januari 2004 lalu. Ungkapan itu disampaikannya untuk menggambarkan betapa kondisi kekuatan tempur TNI AL sangat jauh dari takaran memadai.
Rasa bangga kita pasti terpancar setiap kali mendengar para prajurit TNI berhasil menjalankan operasi pengamanan wilayah. Tetapi, tahukah kita, bahwa mereka telah menjalankannya seraya bertaruh nyawa oleh sebab peralatan yg sudah usang dan menurun kemampuannya. Dalam operasi amfibi di samalanga misalnya, hampir semua KRI dan kendaraan pendarat yg dikerahkan sudah ketinggalan jaman. KRI Teluk Dangsa yg engselnya lepas, percaya atau tidak, adalah buatan tahun 1945. Dan KTB-50 yg menderu-deru dengan gagah itu tak lain adalah peninggalan jaman Trikora dari tahun 50-an.
Dalam sebuah kajian komprehensif, disebutkan bahwa untuk mengamankan wilayah perairan Indonesia, idealnya TNI AL memiliki 150 KRI. Nah jika jumlah itu belum dapat dipenuhi, masih ada takaran lain, yaitu 141 KRI, atau kalau masih belum mampu, TNI AL minimal harus memiliki 138 KRI. Walau perhitungan itu masih terus dikaji, namun harapan terkadang memang hanyalah harapan. Yg jelas sejauh ini TNI AL hanya memiliki 120 KRI dengan usia yg rata-rata telah mencapai 20 tahun, serta persenjataan yg telah ketinggalan jaman dan sering macet.
Pada saat membicarakan kekuatan pertahanan, seyogyanya kita memang tidak boleh cengeng dan serba mengeluh. Tetapi apa mau dikata, setiap kali membicarakannya, agaknya memang tidak ada kata lain selain :
“prihatin, prihatin, dan memprihatinkan”.
Jika sebagai warga sipil kita bisa berpandangan kritis, maka janganlah kaget jika lalu banyak petinggi TNI dibuat gusar oleh ketimpangan yg ada. Mungkin karena saking geramnya, beberapa petinggi TNI AL bersikap keras dan berkata,
“Tinggalkan kebijakan pertahanan berdasarkan kekuatan kecil, efektif dan efisien. Saatnya Indonesia mempunyai TNI AL yg besar & kuat untuk menjaga keutuhan NKRI”
Kebijakan yg -menurut saya pribadi- harus mendapatkan lebih dari sekedar bahan pertimbangan dari para punggawa negara kita tercinta ini……………
:::::::::: sumber, majalah angkasa dan majalah commando ::::::::::













12 comments
Comments feed for this article
Mei 11, 2007 pada 5:34 am
cK
PERTAMAX!!!!
baca belakangan khekhekehkhke
Mei 11, 2007 pada 5:37 am
venus
halah. kesian banget sih kita ini? pantesan, kalah gertak mulu sama negeri tetangga yg ngiler liat blok ambalat, misalnya
>>>>>>>>>>
emang memprihatinkan ya …
Mei 11, 2007 pada 6:43 am
Kang Kombor
Kang Kombor punya keprihatinan yang sama. Kang Kombor justru heran sama LSM yang selalu protes terhadap anggaran pertahanan kita. Padahal, anggaran pertahanan kita itu tidak cukup untuk membeli alutsista baru. Bahkan, untuk sekedar memelihara alutsista yang ada saja bisa dikatakan masih kurang. Makanya jangan heran kalau banyak mesin perang kita tidak bisa dioperasikan karena suku cadangnya sudah dikanibal untuk mesin perang lain yang sejenis.
DPR juga memble domble, kalah sama suara-suara LSM yang dapat dana dari luar dan membantu orang luar menggerogoti bangsa sendiri.
>>>>>>>>>>
TNI-ku sayang … TNI-ku malang …
Mei 11, 2007 pada 9:06 am
g u s t i
saya sejalan dgn ibu jurig & kang Kombor yg punya keprihatinan yg sama atas TNI, terutama TNI AL.
(Sekedar info, dlm rapat kerja antara TNI AL dan Komisi I DPR RI, Pebruari 2007 yg lalu, bisa diketahui tingkat kesiapan armada perang TNI AL yakni KURANG dari 60%)
DPR emang memble, tapi lebih memble pemerintah karena DPR sdh memproduksi UU pertahanan negara, dan tinggal pelaksanaannya oleh pemerintah.
btw, jgn slalu memandang negatif kpd aktivis / LSM ya Kang Kombor… karena gak semua aktivis / LSM itu membantu pihak luar & menggerogoti bangsanya sendiri loh…
tenkyu
Mei 11, 2007 pada 9:16 am
g u s t i
tambahan :
bisa juga kok pemerintah beli alutsista baru tapi pake dana non budgeter… hehehe…
Mei 11, 2007 pada 1:29 pm
Shan-in Lee
Iya nih… Blok Ambalat nasibnya bagaimana kalau AL kita saja peralatannya JaDul semua?
>>>>>>>>>>
nasibnya ??? …. yaaa.. gitu dech …
Mei 13, 2007 pada 2:26 pm
mbah keman bersabda
Zaman Gusdur..dulu kalau gak salah anggaran Militer di tingkatkan ..tapi banya anggota dewan dan pengamat ..taik…protes..pengamat itu hanya bisa bicara tanpa memberikan solusi..kayak kita
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
hmmm … kaya kita ya mbah ? …
Mei 17, 2007 pada 1:39 am
Evy
TNI itu prinsipnya membela bangsa dan negara jadi meski peralatan seadanya tetep konsisten nyawanya sudah di gadaikan, sementara anggota dewan yg mulia khan nangkring di DPR/MPR cuman 5 th abis itu belum tentu jadi yaa…gitu deh… maklum klo radha2…
>>>>>>>>>>.
tanya ken…apa ..
Juni 6, 2007 pada 6:30 am
imoet
yach……. meskipun memprihatinkan tapi klo negara aja ndak melek pada kekuatannya sendiri mau gimana lagi coba. yang hanya bisa kita lakukan cuma pasrah dan berdoa. yo ndak coy
>>>>>>>>>>>>>
pasrah ? …
bukannya kita bisa memaki, menghujat, mencaci, mengejek negara ini ? … seperti yg selalu dilakukan oleh sebagian besar orang di negara tercinta ini …
September 18, 2007 pada 2:10 am
Anonymous
ya klo mo smua urusan pertahanan & keamanan mbok ya persenjataannya di modernisasi donk.Kapan qt bisa maju klo persenjataan ja masih jadul banget…
TNI juga manusia….;))
Oktober 17, 2007 pada 8:10 pm
satrio wirang
mungkin bilamana para petinggi kita mengadopsi pemikiran-pemikiran Mc Namara kayaknya bakalan bagus deh, meski gagal di vietnam
Juni 5, 2008 pada 4:23 am
uuk
sekali layar terkembang surut kita berpantang
jalesu jayamahe (di laut kita berjaya)
kita kmblikan smunya k semboyan tadi