setelah membaca tulisannya mas Ivan yang berjudul Media Massa Tak Tersentuh Kritik ?, jadi pengen bahas pers… hehehe ….tapi ini rada ga nyambung dg apa yg ditulis mas Ivan….
Kalangan Jurnalistik khususnya suka menggambarkan pers sebagai “kekuatan besar” negara. Sebenarnya, fungsi pers memang besar sekali. Kita tidak bisa menilai pers terlalu tinggi;bahwa pers benar-benar melanjutkan pendidikan menuju kedewasaan. Pembacanya, pada umumnya, dapat dibagi menjadi tiga kelompok :
- Kelompok pertama, mereka yang percaya dengan apa saja yang mereka baca.
- Kelompok kedua, mereka yang telah tidak percaya apapun,
- Kelompok ketiga, mereka yang dengan kritis menguji apa yang meraka baca, dan kemudian menilainya.
Secara angka, kelompok pertama adalah yang paling besar. Kelompok tsb terdiri atas sebagian besar rakyat dan karenanya mewakili bangsa yg berpikiran sederhana. Kelompok ini tidak dapat dimasukkan ke dalam terma-terma profesi, melainkan dalam tingkatan intelegensia umum. Kelompok ini meliputi semua orang yang tidak pernah dilahirkan atau terlatih untuk berpikir terbuka, dan yg sebagian karena ketidakmampuan dan inkopetensi percaya begitu saja pada semua yg telah ditetapkandi depan mereka dalam hitam dan putih. Di dalam kelompok ini juga terdapat orang-orang yg malas yg dengan senang hati menyerap segala sesuatu yg telah dipikirkan orang lain, dengan asumsi sederhana bahwa orang lain telah berusaha keras dalam hal ini.
Kelompok kedua jauh lebih kecil jumlahnya. Terdiri atas elemen-elemen yg sebelumnya menjadi milik kelompok pertama, tetapi setelah didera kekecewaan yg panjang dan menyakitkan berpindah ke kelompok kedua dan tidak percaya pada tulisan apapun yg muncul di depan mata mereka. Mereka benci semua jenis media masa; mereka juga tidak membacanya sama sekali atau pun tanpa perkecualian marah-marah pada isinya, karena menurut pendapat mereka media masa tsb berisi kebohongan dan kepalsuan.
Kelompok ketiga, akhirnya, adalah yg paling kecil; terdiri atas orang-orang dengan kehalusan mental yg sesungguhnya, yg mempunyai bakat dan pendidikan untuk berpikir terbuka, yg mencoba membentuk penilaian mereka ttg semua hal, dan yg mengarahkan segala yg mereka baca untuk pengujian menyeluruh dan perkembangan lanjutan untuk mereka sendiri. Mereka tidak akan melihat media masa tanpa menadaptasikan dalam pikiran. Para jurnalis atau penulis tidak mudah untuk memuaskannnya, tapi mencintai kelompok ini dengan tekad terbesar.
Harus diaku, tidak semua tulisan jurnalis begitu berbahaya atau bahkan tidak penting, sebagian besar pembaca jenis ketiga telah belajar sepanjang hidupnya untuk memandang semua jurnalis sebagai bangsat pada prinsipnya, yg menceritakan kebenaran hanya dalam keremangan. Sayangnya fungsi pokok orang-orang ini terletak hanya dalam intelegensia mereka dan bukannya pada jumlah — sebuah kemalangan pada suatu zaman ketika kebajikan bukan apa-apa dan mayoritas adalah segalanya !– Saat ini ketika suara massa paling menentuka, beban utama terletak pada kelompok yg paling besar, dan ini adalah kelompok yang pertama: kelompok sederhana dan patuh.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Sumber pencerahan : Mein Kampf
ini semua bukan hasil dari copy-paste, tapi dari nerjemahin terus digabungin ama pendapatku sendiri, jadi maaf kalo agak aneh susunan kata-katanya … hehehe…













9 comments
Comments feed for this article
April 5, 2007 pada 10:09 am
dalamhati
mungkinkah bila jenis pembaca kelompok ketiga ini dikembangkan,dengan bantuan jurnalis juga tentunya, secara bertahap lewat tulisan-tulisan?
ataukah bagaimanapun dicoba untuk mendidik mereka, mereka akan tetap menjadi kelompok pertama, karena kemalasan, ketidakmampuan dan inkopetensi tetap membatasi pikiran mereka?
para jurnalis pastinya memiliki kepentingan bukan buat mengembangkan kualitas pembacanya.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Mayoritas para jurnalis hanya berkepentingan untuk “mengembangkan” kuantitas pembacanya, bukan kualitas pembacanya… tapi tentu saja golongan minoritas jurnalis berusaha melakukan kebalikannya, dan biasanya para jurnalis kritis ini “agak tidak peduli” dengan tuntutan bisnis dari para redaktur tempat dia bekerja…
tapi siapa tahu mungkin ini terbalik dlm kenyataannya, krn ini cuma dari sudut pandang saya aja …
April 5, 2007 pada 10:11 am
dalamhati
kurang tanda tanya: ?
April 5, 2007 pada 11:06 am
agorsiloku
bentar, saya kurang paham paragraf awal : sebagai kekuatan besar negara?.
Ini maksudnya maksudnya media massa sebagai corong pemerintah.
Kalau pointnya di situ, maka jawabnya : Kelompok dua yang terbesar.
Kalau sebagai kekuatan kontrol pada Pemerintah, maka golongan ke 3 yang besar.
Tapi, kalau koran kuning yang dibaca :
maka saya pilih satu… soalnya seneng gosip sih…
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
seharusnya pers itu jadi corong dan kontrol pada pemerintah …. dan di Indonesia pun begitu adanya, tapi seperti yg disebutkan diatas, kelompok pertama yg terbesar karena mereka manut kpd apa-apa yg ditulis media massa.. sepertinya memang banyak yg ga peduli, tapi sebenarnya mereka ga peduli karena isi media massa tsb, dan ini menjadikan mereka masuk ke golongan pertama…
kalo media massa berfungsi sbg kontrol pada pemerintah tapi muatannya seperti media massa Indonesia skrg ini, maka golongan ke tiga ngga akan bertambah besar, dan golongan pertama akan terus bertambah besar… isi dari media massa Indonesia skrg hanya berisi hujatan yg dihaluskan cara penyampaiannya sehingga hujatan tsb terkesan sbg kritik yg membangun, memang ga semua tapi mayoritas. Selama sistem “kebebasan pers berdasarkan gerakan REFORMA-SHIT” dipakai, maka seperti yg saya katakan di atas golongan ketiga ngga akan membesar, dan golongan pertama akan terus mendominasi…
“kebebasan pers berdasarkan gerakan REFORMA-SHIT” = kebebasan pers yg menjunjung tinggi HAM dan mengaplikasikannya dengan cara menginjak-injak HAM
hehehe … tapi ini kan cuma pendapatku aja, pa Agor jauh lebih berpengalaman dan bijaksana dalam melihat suatu hal dibanding saya… ..
April 5, 2007 pada 11:31 pm
Evy
hehehehe iya ya kadang pers pilih koran yang penting laku keras abis banyak yang seneng baca gosip…, contoh di blog2 ini juga begitu, begitu ada judul yg bau2 gosip apalagi parno atau hiburan…walaah langsung pada spt laron terbang kesana, mungkin bisa menjadi gambaran golongan yang bagaimana bagaimana pembaca blog teh…
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
hehehe … blog kan kadang berfungsi sebagai media massa juga…iya kan bu ??…..
April 7, 2007 pada 6:36 am
manusiasuper
———————
Mayoritas para jurnalis hanya berkepentingan untuk “mengembangkan” kuantitas pembacanya, bukan kualitas pembacanya… tapi tentu saja golongan minoritas jurnalis berusaha melakukan kebalikannya, dan biasanya para jurnalis kritis ini “agak tidak peduli” dengan tuntutan bisnis dari para redaktur tempat dia bekerja…
———————-
Setiap media (baca:journalis) membawa misi masing-masing dalam beritanya. Ada yang memang membawa misi untuk merubah suatu keadaan, ada yang bertujuan untuk memantapkan kekuasaan penguasa, ada juga mencari sesuap nasi, serta banyak tujuan berbeda lainnya.
Yang perlu dicari tahu adalah misi dan tujuan dari setiap berita yang kita terima. Misi yang paling rendah adalah membuat berita sebagai alat untuk memeras, dan misi yang paling luhur adalah membuat berita untuk mengajak pembaca ke arah yang lebih baik…
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
yup… mas fadil betul … krn itu saya membagi dua golongan jurnalis, mayoritas dan minoritas, krn rendah atau luhur misi yg dibawa jurnalis secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh tuntutan bisnis dari media massa tempat jurnalis tsb bekerja…
but then again… Itu hanya dari sudut pandangku aja…
April 10, 2007 pada 9:26 am
wadehel
Aku dengar dan aku patuh… hehe, kelompok pertama itu ya? Pantesan banyak yang benci banget kalo ada yang ngelitikin umat biar mikir.
>>>>>>
“…we hear and we obey…” [24:51] ….
April 10, 2007 pada 9:43 am
wadehel
Aku dengar dan aku patuh… hehe, kelompok pertama itu ya? Pantesan banyak yang benci banget kalo ada yang ngelitikin umat biar mikir.
April 10, 2007 pada 9:59 am
nita
ikut comment juga ya…
ku harap aku jadi kelompok ketiga.
mungkin bukan ide yang ingin aku dapatkan dari para jurnalis tapi cara mereka mengemas ide, salut deh!!!
harus belajar banyak dari mereka apalagi kalo pingin buat postingan yang bagus, benar bukan???
kalau para jurnalis banyak yang gak kritis bagaimana kalo para blogger aja yang kritis pasti seru!!!
lebih bebas, idealis(hee…tidak terpengaruh gaji maksudnya) dan pasti lebih objectif.
nb:
boleh, hore…. banyak teman
ntara tanya tentang Bandung boleh kan?
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
betul itu mbak nita …. blogger jauh lebih bebas, jadi bisa lebih “…sa’karepe dewe’…” hehehehe
tanya ttg bandung ? … boleh-boleh aja…meskipun aku skrg ngga tinggal di bandung, tapi bandung ngga akan pernah hilan dari hati dan memoriku … hehehehe …
September 11, 2008 pada 5:29 am
Cm4nk
Kelompok ketiga ntu bukannya muncul dari kelompok ke 2 yg terisolasi karena sebelumnya tidak dapat informasi??

trus bgmana dengan orang2 yg loyal ma sesuatu?? *ex percaya 100 persen ma berita dari sumber A,tapi meragukan berita yang keluar dari sumber B*
=-=-=-=
Salam