Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengagungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara.
Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.
Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.
- Apakah hanya dengan fasisme kita bisa membangun negeri ini ? …
- Apakah fasisme jawaban untuk mengatasi perilaku indisipliner yang menghinggapi hampir semua elemen masyarakat Indonesia ? …













7 comments
Comments feed for this article
Maret 27, 2007 pada 7:02 am
Evy
Waduuh ga usah jadi fasisme… mending demokrasi tapi yg bertanggung jawab gitu… dan lebih tegas aturannya, atau konstitusinya aja yg di benerin.
Maret 27, 2007 pada 12:03 pm
Kang Kombor
Teh Joerig Geulis, bingung mau komentar. Aku sendiri ngusulin ultranasionalisme yang mungkin hanya merupakan penghalusan dari fasisme. Ada pertanyaan yang selama ini sebenarnya masih menggangguku, apakah kita ini bisa bersatu dalam ikatan yang namanya Indonesia? Kalau kita bisa bersatu dalam satu ikatan yang namanya Indonesia, tentu ultranasionalisme lebih mudah dilembagakan ke jiwa setiap manusia Indonesia. Kalau sebaliknya, kita masih tidak bisa bersatu, nasionalisme (terlebih ultranasionalisme) hanya merupakan utopi. Begitu pun fasisme.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
mungkin kita harus berteriak …
“Indonesia, erwache!” …. “Woi … Indonesia, Bangun woi…!” ….
Maret 30, 2007 pada 7:27 am
agorsiloku
menarik juga pasisme ini, enak juga kayaknya kalau agor jadi penguasa absolut tanpa demokrasi, tanpa hak suara, tanpa hak bicara, dan tentu saja dengan seluruh kewenangan mutlak… More than mutazillah ya. Semua juga harus sejahtera dengan ketentuan : Semua masyarakat kecuali agor dan keluarga agor sebagai penguasa tunggal maka tingkat kesejahteraan, ukuran rumah, ukuran mobil, sampai ukuran badannya tidak boleh lebih tinggi atau sebanyak-banyaknya setengah dari yang ada pada agor.
Tapi, jelas, karena kita belum pasisme, maka perlu kita definisikan dulu ketentuan-ketentuan dasarnya. Agor masih bingung, apakah nanti agor akan mendukung (rasanya nggak bisa ya, kan dukungan artinya demokrasi juga)… jadi gimana dong, kalau ditanya, berarti agor punya hak suara… ini menyalahi prinsip pasisme yang mengagungkan kekuasaan mutlak.
Jadi gimana dong?, pertanyaan yang diajukan terakhir juga masih berbau demokrasi….
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Halo Pa Agor,…
Pak, fasisme itu berlaku untuk setiap elemen masyarakat yg ada di negara penganut fasisme tsb, jadi penguasanya juga harus mengikuti aturan fasisme. Kalo mengenai ada unsur demokrasinya, itu udah jelas pa Agor, karena ideologi itu kan pilihannya banyak dan menyangkut kepentingan masyarakat di negara itu, jadi kalo mau ganti ideologi ya harus di musyawarahkan dulu untuk mencapai mufakat (biasanya sih dipaksa untuk mufakat…hehehe
)… Semua negara fasis kan asalnya juga bukan negara fasis, ada yg monarchy, socialist, komunis, bahkan demokrasi atau republik.
“The State not only is authority which governs and molds individual wills with laws and values of spiritual life, but it is also power which makes its will prevail abroad… For the Fascist, everything is within the State and… neither individuals nor groups are outside the State… For Fascism, the State is an absolute, before which individuals or groups are only relative… Liberalism denied the State in the name of the individual; Fascism reasserts the rights of the State as expressing the real essence of the individual.”
September 23, 2007 pada 9:51 am
der_Fuehrer
Dunia saat ini berada dalam keadaan dimana semuanya penuh dengan KEMUNAFIKAN.
Apa yg disebut dg demokrasi kalau semuanya cuma omong kosong!!!!
” hanya musyawarah yg boleh ada,tapi jangan ada yg namanya keputusan mayoritas. karena keputusan hanya untuk orang2 yg bertanggung jawab…dimana keputusan akan dibuat hanya oleh satu orang saja. yang mempunyai wewenang dan hak memerintah ”
Ditujukan kepada semua kaum Fasis…Marilah kita bergabung membangun suatu kekuatan dimana tidak ada yang namanya Kedustaan,Kebodohan,dan Kepengecutan.
Mari bersama sama bergabung dan menentang gerakan propaganda Zionis,Barat,Komunis,dan Kapitalis.
INDONESIA BANGKIT !!!!
Juli 30, 2008 pada 11:12 am
ika
kok tentang fasisme kyknya krng lngkap ya??? kyknya gak ada contohnya!!!!!!
Juli 30, 2008 pada 11:34 am
ika
pendapatku cuman tolong dong tentang fasisme ini di lenkapin lagi!!!!! jadi para peminat pembaca yang suka dengan pengetahuan fasisme bisa lebih banyak pengetahuannya!!!!!!!! terima kasih!!!!
Desember 19, 2008 pada 5:00 pm
dewashiwa
Musuh ideologi negara kita ya cuma 3 yaitu ideologi kapitalisme, agama dan komunisme. Kalau fasisme yang berarti nasionalisme ekstrim, dipraktekkan di negara kita, aku sih setuju2 aja. Tentu dibutuhkan angkatan bersenjata yang kuat untuk mewujudkannya dan juga aparat pemerintah yang jujur dan disiplin seperti pegawai negeri jerman yang terkenal dengan pegawai negeri paling disiplin se-dunia. Apakah bisa itu terlaksana semua? Hanya sejarah yang akan menjawabnya. Kapitalisme, agama dan komunisme sudah terbukti menyengsarakan rakyat , ke3 biang kerok itu sudah waktunya beristirahat, tibalah nasionalisme-sosialisme saatnya bangkit di negara kita!! Salam Revolusi!! Heil Hitler!!